Author Archives: Perjalanan Anja

About Perjalanan Anja

Hallo! Namaku Zanjabilla Maghantis, biasa di panggil Anja. Aku seorang homeschooler yang biasa-biasa saja, gemar menulis dan jalan-jalan. Anak pertama dari tiga bersaudara. 2005 adalah tahun kelahiranku. Selamat datang di blogku dan selamat membaca tulisanku!

Pamit

“Bu aku pamit keluar ya” ucapku, salim kepada ibu. Baru keluar rumah, ibu sudah menelepon “Kalau keluar rumah, kunci pintu ya. Ibu pulang malam” katanya.

tangkap layar cerpen Saudara yang Sempurna

Judul Cerpen               : Saudara yang Sempurna.

Pengarang                   : Benny Arnas.

Jumlah halaman         : 6 halaman.

Penerbit                      : Media Indonesia.

Tanggal terbit             : 27 September 2020.

Saudara yang Sempurna merupakan cerpen karya Benny Arnas, seorang penulis, sutradara, novelist dan produser asal Lubuklinggau. Cerpen karyanya banyak tersebar di koran-koran. Salah satunya cerpen ini, yang aku baca lewat website lakonhidup.com jika kalian ingin ikut membaca bisa klik link ini: https://lakonhidup.com/2020/09/27/saudara-yang-sempurna/.

Pepatah “Rumput tetangga selalu lebih hijau dari milik sendiri” agaknya cocok dengan cerpen ini. Bercerita tentang dua kakak beradik kembar perempuan. Jannati kakaknya dan adiknya yang lahir hanya beda beberapa menit, bernama Jannah.

Padahal awalnya, aku pikir cerpen ini akan biasa-biasa saja, karena mengangkat cerita kakak beradik. Tapi ternyata aku salah! Menurutku cerpen ini keren sekali, alur yang bercerita dari sudut pandang karakter Jannati, membuat aku merasa kalau cerpen ini unik. Aku juga suka gaya bahasa yang digunakan Benny Arnas, pemilihan diksinya bagus dan aku bisa merasakan berbagai perasaan sedih yang campur aduk.

Aku sendiri merasa, kalau cerpen ini dibagi menjadi tiga fase. Pertama saat mereka berdua SMA dan SMP. Ke dua saat kuliah. Ke tiga saat lulus kuliah dan masuk dalam dunia kerja serta pilihan menikah atau tidak.

Dari satu masa ke masa lainnya, aku merasa ada perbedaan emosi yang membuat aku merasa kesal, bersimpati, gemes sendiri sama karakternya dan ikut sedih karena terharu melihat perjuangan masing-masing karakter.

Dari segi tokoh, tentu aku suka karakter Jannita dan Jannah. Aku suka dengan sikap mandiri Jannita yang hidup di Jepang. Awalnya ia bisa masuk Meiji University, berkat bantuan ayahnya membiayai kursus intensif bahasa Jepang. Tapi, ketika ia liburan semester dan pulang ke Jakarta, dirinya memergoki sang ayah membawa perempuan ke apartemen. Hal itu membuat dirinya pergi meninggalkan sang ayah dan hidup mandiri di Jepang. Mati-matian ia menyelesaikan S-2 dengan bantuan beasiswa dan kerja sampingan cuci piring. Disitu aku melihat kalau Jannita adalah wanita karir yang kuat. Apalagi setelah lulus, ia mendapatkan pekerjaan yang bagus, menjadi manajer regional di pernebitan terkemuka.

Kalau dari Jannah, aku tentunya kagum dengan ketulusan yang dia miliki. Menurut aku Jannah itu tipe-tipe perempuan yang penurut dan penyayang. Karena ia sayang sekali dengan ibunya. Sampai suatu saat, ada seorang duda yang ingin melamarnya. Duda itu berjanji akan membiayai pengobatan ibunya, jika Jannah mau menikah dengannya. Pernikahan itu terjadi, dengan harapan ibunya sembuh. Tapi ternyata Jannah salah, duda itu menikahinya tanpa memberi uang untuk pengobatan ibunya. Malah suaminya sendiri memperburuk kondisi, sang ibu pingsan dua kali ketika melihat Jannah menjadi korban kekerasan suaminya sendiri. Pada akhirnya ia bercerai dan mampu berjuang mengurus ibunya sendirian dengan cara menjadi guru honor dan berjualan. Sama seperti Jannita, bagiku Jannah juga wanita yang sangat kuat. Ia mampu bertahan dengan keadaan yang ada.

Dari gaya penulis, bercerita melalui sudut pandang Jannita, yang merasa kalau ia sedang bersaing dengan adiknya itu. Membuat aku membandingkan dua karakter ini dan merasa kalau mereka sebenarnya sama-sama wanita kuat, tapi dengan pengalaman dan jalan hidup yang berbeda. Cerpennya pantas diberi dua jempol!

Akhir kata. Pendapat pribadiku merasa kalau cerpen Saudara yang Sempurna mencerminkan beberapa perilaku manusia yang suka iri dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, kita bisa lihat sendiri dari cerita ini. Tidak ada yang lebih baik atau yang lebih buruk, karena seseorang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.  

Processed with VSCO with a10 preset

Pagi ini, sinar cahaya matahari redup, tertutup awan mendung. Campuran tanah dan batu kerikil yang aku injak cenderung lembek, jika tidak hati-hati, kakiku bisa menginjak tanah yang sudah berubah jadi lumpur. Orang-orang hilir mudik, ada yang membawa belanjaan sayur banyak sekali, ada yang baru datang membawa tas belanja anyaman berwarna-warni, ada tukang sayur keliling yang masih menata barang jualan di atas motor.

Aku dan adikku, berjalan ke gedung Pasar Rakyat Kabekelan. Sebagian jalan di depan pasar ini sudah beraspal, dipakai untuk parkir motor atau mobil bak yang berjualan tanaman, perabotan dapur dan baju daster. Di pinggir-pinggir gedung, terdapat ruko-ruko kecil, lengkap dengan gerobak, kursi dan meja. Ada beberapa penjual yang berjualan makanan siap saji, seperti soto, mie ayam, sate dan nasi pecel.

Processed with VSCO with a10 preset

Kami masuk ke bagian dalam pasar, ibu-ibu menjinjing tas anyaman mereka, sepertinya tas anyaman adalah barang penting—selain dompet, yang harus dibawa ke pasar. Para pedagang yang kebanyakan ibu-ibu, berdempetan membuka lapak di dekat pintu masuk utama, padahal masih banyak lapak kosong di bagian kanan dan kiri pasar. Mereka mengincar orang-orang yang baru masuk,“Beli apa mbak?” “Sayurnya masih segar, Mbak” “Cabainya, Mbak” “Tempe Mbak.” Semangat sekali mereka menawarkan jualannya, kepada pembeli yang baru datang.

“Sini, ke tempat yang lebih sepi dulu” ujarku, kepada dua adikku. Sambil menarik mereka ke tepi sebelah kanan pasar. Suasana di dekat pintu masuk sangat riuh, membuatku kehilangan konsentrasi.

Processed with VSCO with preset

Di tempat aku dan adikku menepi, suasananya lebih lengang. Dari situ aku baru memperhatikan, Pasar Kabekelan memiliki lantai keramik berwarna putih, belum ada yang pecah atau bolong, atap yang cukup tinggi membuat udara di dalam pasar tidak begitu pengap. Para penjual berjualan dengan rapih, diatas meja yang dilapisi keramik putih—sama dengan lantai. Mungkin karena pasar ini baru beroperasi sehabis lebaran tahun lalu, semua fasilitas masih terlihat baru. Malah, saking barunya, tembok gedung bagian luar belum diberi cat.

Sayangnya, Pasar Rakyat Kakebelan yang memiliki fasilitas nyaman—karena kebersihannya. Tidak buka setiap hari, pasar ini hanya buka setiap hari Senin dan Kamis, dari pukul enam pagi sampai dua belas siang.

Link

Jam menunjukan pukul 9 pagi, cuaca Semarang pagi ini panas sekali.

“Terima kasih banyak bu” ujar aku dan Ceca sambil turun dari mobil.

Sesuai rencana, pagi ini, aku dan Ceca datang ke salah satu taman yang berada di Semarang. Taman Diponegoro, jadi tempat singgah.

Untuk ukuran taman, Taman Diponegoro bisa dibilang kecil sekali. Hanya ada beberapa bangku yang disusun dari batu bata berwarna hitam, satu sampai tiga tempat sampah, dan jalur untuk jogging yang mengelilingi taman tersebut. Kalau jogging di taman ini, mungkin satu putaran hanya dapat 200-300 meter.

Satu hal yang menyenangkan: taman Diponegoro teduh banget! Pohon di taman ini tuh, banyaaaakk banget. Jadi, walaupun kami mengadakan piknik kecil-kecilan, tapi enggak akan bete karena panasnya sinar matahari. Malahan, tempatnya jadi lucu gitu lhooo. Kami duduk, lalu ada sedikit bayangan daun dan sinar matahari yang menemani kami.

“Haduhh… berisik banget yaah” ucap Ceca sambil senyum miris.

Tempat siih, udah oke, cukup nyaman, eh tapi… letak taman Diponegoro itu di tengah jalan. Jadi, jalan di sekitar taman Diponegoro itu, konsepnya seperti Bundaran HI, makannya taman ini berisik sekali. Karena banyak kendaraan yang lalu-lalang mengelilingi Taman Diponegoro. Mencari ketenangan di kota sepertinya cukup sulit yaa…

Aku mulai mengeluarkan perlengkapan piknik, begitu pula Ceca. Tempat duduk yang tadinya hanya ada kami, sekarang ramai dengan barang bawaan. Ada pancake pakai topping keju + susu kental manis, kopi gula aren racikan Om Akbar (kakaknya Mbak Aida) dan perlengkapan untuk menggambar.

“Ayookk menggambar Ca, aku sambil setel lagu yaaa” ucapku, sambil mengeluarkan gawai dari dalam tas.

Ditemani lagu-lagu dari Dengarkan Dia, aku dan Ceca menyantap pancake bersama, minum kopi racikan Om Akbar, yang rasanyaaa enaaaak bangettt! Dan mulai menggambar bersama. Ceca memilih untuk menggambar orang, sedangkan aku menggambar kelinci dengan mahkota bunga dikepalanya.

Di sebelah kiri ada Ceca dengan gambarnya, di sebelah kanan ada aku dengan gambarku

Terlalu asyik menikmati lagu, menggambar dan bernyanyi. Membuat kami berdua menghiraukan suara bising kendaraan. Sampai akhirnya, suasana ini terasa tenang dan menyenangkan.

Hal sederhana seperti itu lah, yang kami berdua lakukan. Disaat bosaaaan sekali jalan-jalan ke mall, tidak ingin bertemu banyak orang dan juga tidak ingin nongkrong di kafe. Piknik kecil-kecilan di taman sederhana, menjadi salah satu opsi yang pas banget!

Pulang

­­­“Aku baru tahu, sekarang kalau naik bus tiketnya sudah seperti ini” ucap Mbak Aida yang duduk disebelah kananku.

Aku memperhatikan tiket bus yang sedari tadi aku genggam. Menurutku ini penampilan tiket bus yang biasa saja, rasanya setiap naik bus antar kota tiketnya memang seperti ini.

“Dulu, terakhir kali aku naik bus tiketnya enggak begitu. Masih ditulis pakai tangan, eh, sekarang sudah berubah. Bikinnya sudah pakai template, tinggal diatur dilaptop, terus tinggal print” lanjut Mbak Aida.

Oh astaga… ini mbak Aida terakhir kali naik bus tahun kapan deh?

Oh iya, sedikit cerita. Sudah dua bulan ini, aku tidak tinggal bersama orangtua, melainkan ngekos. Aku tinggal di kos-kosan mini Mbak Aida.

Jadi, Mbak Aida bisa dibilang ibu kosku—ehh bukan ibu kos deh, tapi mbak kos! Soalnya umur dan penampilan mbak Aida belum cocok dipanggil ibu hehehheheheh. Nah, untuk saat ini, di kos-kosan aku tinggal bersama tiga orang. Ada Mbak Aida sendiri selaku Mbak kos, aku dan dua orang temanku: Ceca dan Sabiya, jadi kami tinggal berempat.

***

Nah, balik lagi ke Pagi ini. Sekarang, aku sedang bersama Mbak Aida di terminal Sukun yang berada di Semarang. Setelah dua bulan jauh dari rumah, akhirnya hari ini, aku akan pulang ke rumahku yang berada di Prembun.

Karena aku ingin pulang, namun tidak mau merepotkan keluarga yang di rumah. Jadi, aku searching di google. Kalau pulang ke Prembun enaknya naik apa. Dan ternyata, kalau pulang ke Prembun itu, aku bisa naik bus. Nah, aku nemu tuh, bus dengan judul: bus social distancing. Namanya bus Efisiensi.

Berbekal pengalaman eksplorasi, yang sering kemana-mana naik kendaraan umum tanpa orangtua. Aku jadi lebih pede buat memutuskan naik bus Efisiensi sendirian. Eits, tapi dengan syarat. Sebelum naik bus, aku wajib kirim foto plat nomor bus, foto wefie di dalam bus dan berbagi lokasi di group whatssapp keluarga. Buat jaga-jaga, semisal ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

“Yok naik, bus tujuan Semarang-Kebumen, sudah sampai” ujar bapak agen bus Efisiensi.

Aku yang sedang duduk bersama Mbak Aida langsung bangkit dan berjalan mencari Bus Efisiensi. Ternyata, busnya lumayan besar, warnanya hijau, di depan kaca dan belakang bus terdapat tulisan “Bus Efisiensi, bus social distancing”.

Saat masuk ke dalam bus, udaranya langsung terasa dingin karena ac. Tempat duduknya beneran berjarak. Jadi, setiap orang duduk di satu kursi sendiri. Kira-kira seperti ini: Kursi dekat jendela kanan-kursi di tengah-tengah-kursi dekat jendela kiri, dan terus tersusun seperti itu sampai barisan paling belakang. Setiap kursi jaraknya kira-kira setengah meter. Sudah gitu, penumpang yang naik busnya tidak banyak. Saat itu, hanya ada 10-15 orang. Jadi, di dalam bus masih luas banget.

“Nyari kursi nomor berapa Mbak?” tanya salah satu bapak-bapak yang sedang duduk di kursi dekat jendela sebelah kiri.

“Ini, kursi nomor sembilan pak, sudah ketemu hehhe” jawabku, sambil menaruh ransel di kaki kursi, dan duduk di kursi nomor sembilan, dekat dengan jendela di sebelah kanan bus.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tepat pukul sepuluh bus jalan menuju Kebumen. Karena tidak ada teman ngobrol, aku hanya bisa terdiam menatap ke arah luar jendela bus, sambil pakai earphone, mendengarkan lagu, memperhatikan mobil dan motor lalu lalang.

Diam sambil memperhatikan jalan, membuat pikiranku melayang kemana-mana. Sedikit tidak menyangka saja, diumurku yang tahun ini baru menginjak 15 tahun. Sudah mendapatkan pengalaman hidup mandiri, ngekos, lalu merasakan bagaimana rasanya kembali pulang ke rumah.

Teringat saja gitu, sudah dua bulan aku hidup sama teman. Hari-hariku tidak diisi dengan bertengkar sama adek-adek, dua bulan aku enggak makan masakan Momom (ibuku), dua bulan aku tidak tidur di kasur pribadiku, tidak tidur bersama guling kesayanganku. Yang teringat hal-hal sepele sih, tapi bikin kangen hehehehe.

Ya, setelah dua bulan tinggal di Semarang sendirian. Akhirnya aku pulang sejenak. Ini yang aku suka dari perjalanan pergi meninggalkan rumah, kata “pulang” jadi terdengar spesial. Pastinya, lebih spesial dari martabak atau nasi goreng spesial. ­

Rutinitas Yang Terulang

Sudah lebih dari dua bulan aku belajar tinggal mandiri. Tinggal di kosan, masak makanan sendiri, nyuci baju sendiri, sampai mengambil berbagai macam keputusan sendiri. Selama tinggal sendiri, keseharianku kira-kira seperti ini:

Bangun pagi, mengumpulkan nyawa sebentar, merapihkan kasur, sarapan, entah apa saja yang ada di meja aku jadikan sarapan. Entah itu roti, buah, nasi goreng, macaroni pakai telur atau nasi hangat dengan telur ceplok dan tidak ketinggalan kecap manisnya. Selesai dengan sarapan, aku mencuci piring, minum vitamin dan siap-siap ke studio.

Itu rutinitas saat aku bangun pagi, beda lagi kalau aku bangun kesiangan. Rutinitas pagi jadi lebih singkat: Bangun-mandi-ambil tas-berangkat ke studio. Begitu saja, berulang terus dari hari Senin-Sabtu.

Terkadang, yang membedakan hanya lah moodku.

Misal, hari senin moodku kesal setengah mati, karena merasa: kenapa hari minggu kok cepet banget berlalu?! Padahal aku masih ingin santai-santai dan istirahat—pasti hampir semua orang pernah merasa begini bukan? Itu kalau moodku sedang tidak enak, namun, kalau moodku senang, semangat, gembira. Pasti berangkat ke studio dengan senyum yang tersembunyi dibalik masker.

Ya begitu deh, sedikit bayangan tentang rutinitas pagi hariku.

***

“Pagi Mbaakk” kalimat sapa yang selalu aku ucapkan setiap baru masuk studio. Studio tempat aku berkarya sekaligus belajar magang dengan mentorku: Mbak Salma.

Seperti biasa, pukul sembilan lewat. Aku sudah ada di studio, duduk di mejaku. Mengumpulkan semangat sebentar, lalu membuka tas laptop.

Jangankan rutinitas pagi hari, membuka laptop saja pasti terulang. Mulai dari Nyalain laptop, buka google chrome, dengerin musik di youtube, sambil mencari referensi di pinterst, buka software Adobe Illustration atau Photoshop dan mulai menggambar. Menggambar terus dari hari senin sampai sabtu. Sudah begitu, yang aku gambar hanya karakter, karakter dan karakter.

Terhitung sudah dua bulan lebih, aku menghabiskan hari-hari dengan menggambar. Entah sudah berapa kali aku merasa bosan dan jenuh, karena setiap hari hanya mengulang hal yang sama terus. Tapi, aku merasa dari situ lah aku banyak belajar. Aku belajar melawan rasa malas setengah mati, melawan rasa bosan, membiasakan diri dengan rutinitas yang terulang.  

Sampai akhirnya, setelah dua bulan lebih aku menghabiskan hari-hari dengan menggambar. Pagi ini aku sedikit flashback. Mengingat gambar yang aku buat dua bulan lalu, saat pertamakali aku belajar dengan Mbak Salma. Aku baru bisa membuat karakter sederhana, bentuk mata hanya bulat, tangan seperti capit kepiting, rambut kaku, proporsi badan juga kaku banget, kayak kanebo kering. Atau terkadang aku sendiri juga bingung ini bentuk tubuh karakter yang aku buat seperti apa sih?

Namun, dari situ aku terus belajar, lihat banyak referensi, terus berusaha membiasakan diri. Dan pagi ini, aku membandingkan gambarku yang dulu dengan gambarku yang baru saja kemarin aku buat.

“Wow, ternyata gambarku yang dulu dan sekarang bedanya lumayan drastis ya, Mbak” itu lah kata yang terucap saat aku membandingkan gambarku.

Dan ternyata, Mbak Salma cukup setuju dengan hal itu. Karena, gambarku yang sekarang bisa dibilang sudah lumayan oke, postur tubuhnya sudah tidak aneh, bentuk mata tidak hanya lingkaran, bentuk tangan sudah lebih baik. Namun, aku tetap masih harus belajar terus.

Dan flashback pagi itu mengingatkanku dengan pesan, yang selalu dikatakan oleh kedua orangtuaku. Pesan itu hanya terdiri dari tiga kata. Namun, rasanya seperti kalimat mantra yang terkadang berhasil membakar semangatku. Yaitu: Bisa karena terbiasa.

Pagi itu, aku sadar. Ternyata aku bisa melakukan hal yang selama ini aku anggap tidak bisa. Dan aku bisa bukan karena aku memiliki bakat dalam hal itu. Tapi, aku bisa karena aku mulai terbiasa.

Berkat Pandemi

Tahun lalu, aku mengikuti kelas filsafat dasar, saat itu, mentor di kelas filsafat pernah berkata “Tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk, mau dilihat seburuk apa, pasti ada baiknya”. Saat pandemi ini muncul, kata itu yang teringat di benakku.

Pelan-pelan, pandemi yang awalnya aku anggap hal buruk. Mulai memunculkan sisi positifnya. Salah satunya kejadian minggu ini, sisi positif dari pandemi benar-benar datang untuk diriku. Hari senin kemarin, aku dihubungi kak Gera dari Siberkreasi. Beliau mengajakku untuk jadi narasumber diacara “Hangout Online” yang diadakan Siberkreasi. Acara hangout online itu membahas Homeschooling, salah satu topik yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang-orang.

Saat dikontak oleh pihak Siberkreasi, reaksi yang aku berikan tentu saja senang dicampur aduk dengan panik setengah mati. Enggak percaya aja gitu, masa aku yang baru 4 tahun menjalankan homeschooling sudah diajak jadi narasumber? Apalagi, acaranya akan dimulai 3 hari lagi! Jadi, aku dihubungi hari senin, acaranya akan diadakan kamis malam. Makanya, hari itu juga, kak Gera tinggal menunggu jawabanku “mau atau tidak?”.

Walaupun panik, tapi aku tetap setuju untuk ikutan. Karena, menurut aku ini kesempatan yang bagus, enggak mungkin aku sia-siakan.

Setelah mengkonfirmasi bahwa aku setuju menjadi narasumber, kak Gera meminta foto dan sedikit perkenalan tentang diriku. Dan hari itu juga, pihak Siberkreasi langsung selesai membuat poster tentang acara ini. Di poster itu, ada fotoku, dua orang host dan dua orang narasumber lain.

WhatsApp Image 2020-07-06 at 15.43.32

Begini posternya.

Saat melihat poster itu, aku sedang duduk santai sambil mengerjakan tugas. Tiba-tiba langsung loncat dari kursi, lari ke dapur menghampiri Momom—panggilan untuk ibuku.

“Mom! Ternyata narasumbernya ada Dr. Samto, direktur Dikmas Diksus Kemendikbud” kataku sambil menunjukan poster yang baru saja dikirimkan Kak Gera.

“HAAHH!! Ya ampuuun” kaget adalah reaksi yang diberikan Momom.

Momom saja kaget, apalagi aku! Mau pingsan aja.

***

“Anja, ditunggu ya di backstage” ujar kak Gera lewat whatsapp.

Aku sudah standby sendirian di dalam kamar, menggunakan kaos putih dengan luaran kemeja—tapi pake celana pendek HAHAHAHA—langsung masuk ke dalam link yang sudah di berikan kak Gera. Saat aku masuk, sudah ada kak Putri, Dr. Samto, satu orang operator yang berjaga di belakang layar dan dua orang MC yaitu Kak Mira dan Kak Amho. Saat itu, 5 menit lagi acara akan dimulai, sambil menunggu, operator memberikan briefing dan arahan kalau ada masalah. Kami juga sempat mengobrol satu sama lain, Dr. Samto yang aku pikir akan menyeramkan, ternyata orangnya asyik sekali! Sangat ramah, pokoknya berbanding terbalik dengan yang ada dibayanganku.

“Okay, kita live. Aku turunin Kak Amho dan Kak Mira. Sedangkan Anja, Pak Samto dan Mbak Putri di backstage dulu ya ” ujar operator.

Nah, menarik nih, biasanya aku mengenal istilah backstage itu, ruangan yang ada di belakang panggung. Tapi kali ini, di layar laptopku hanya ada tanda “you are on the backstage” yang berarti, aku belum muncul di layar.

DAG DIG DUG DAG DIG DUG

Sambil menunggu giliran “masuk panggung”, jantungku berdisko, malahan rasanya mau copot! Badanku panas dingin, gemeteran, mulut kering aduh demam panggung nih. Padahal tahun-tahun sebelumnya, aku sudah lebih dari 3 kali tampil, bicara di atas panggung, namun melakukan live seperti ini, beneran grogi bangeettt.

“Hallooo kak Mira dan Kak Amho” sapaku ketika sudah keluar dari backstage.

“Anja, micnya nyalain duluuu” ucap kak Mira.

Aduh, tepuk jidat deh… mau tampil sok cool, seperti tidak ada yang terjadi. Eh, malah lupa nyalain microphone. Jadi, saat aku menyapa MC suaranya enggak ada, yang kelihatan cuman gerak mulutku saja! Aduh, baru masuk saja sudah begini…

Akhirnya, sambil menunggu giliran ditanya-tanya. Aku menenangkan diri, mulai menyesuaikan diri dan berusaha untuk fokus pada obrolan dengan tema “Apakah Homeschooling efektif dalam pembelajaran jarak jauh?”, sebenarnya aku berusaha untuk menyimak pertanyaan yang diberikan oleh MC kepada Dr. Samto dan Kak Putri, aku juga berusaha menyimak jawaban mereka. Supaya aku bisa ikut nyambung masuk ke acara itu.

Tapi enggak bisa.

Aku beberapa kali sempat kehilangan fokus. Karena, melakukan live streaming dengan Siberkreasi adalah live streaming pertamaku. Rasa grogi sudah seperti mengalahkan semuanya. Namun, mau gimana lagi coba? Aku sudah tampil di depan orang-orang, masa mau kalah sama rasa grogi dan menjawab pertanyaan dengan terbata-bata. Kan enggak mungkin!

Pada akhirnya, pelan-pelan, aku bisa menghilangkan rasa grogi dan tenang menjawab pertanyaan. Cuman ya begitu, karena dari awal sudah grogi sampai tidak fokus. Jadi, aku merasa aku kurang interaksi dengan narasumber lain. Kurang aktif juga saat menjawab satu atau dua pertanyaan yang spontan diberikan oleh netizen.

Tidak terasa, kami sudah berada di penghujung acara. Aku bersyukur, ternyata cerita perjalanan homeschooling yang aku miliki, menarik di mata orang lain. Bahkan, tak kusangka, saat aku bercerita MC-nya sempat takjub. Lucu aja gitu, ternyata selama ini perjalananku menarik yaa HAHAHAHA.

Perasaan grogi, demam panggung, deg-degan sudah melorot. Lega rasanya, selama satu jam bisa bertahan. Setelah live streaming selesai, pintu kamar terbuka. Momom masuk ke dalam kamar sambil memelukku.

“Kakak malam ini keren banget, momom bangga” ujar momom, sambil memelukku.

Begitu deh, pengalaman pertamakali live streaming. Walaupun grogi setengah mati, tapi menyenangkan sekali! Masa pandemiku jadi berkesan. Terima kasih banyak kak Putri, sudah memperkenalkan aku kepada kakak-kakak dari Siberkreasi, sehingga aku bisa terlibat dalam acara ini. Terima kasih banyak juga buat Momom dan Popop yang sudah mendukungku sepenuh hati. Dan tidak lupa, terima kasih buat Dr. Samto dan dua kakak MC yang membuat aku nyaman saat live streaming.

Oh iya, kalau ada yang ingin nonton siaran ulang acara ini bisa klik di sini

Sampai jumpa pada kesempatan live selanjutnyaaa!

Bahas Puisi: Seonggok Jagung

SEONGGOK JAGUNG

Oleh : W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Puisi kritik sosial, karya WS Rendra. Setelah membaca puisi ini, aku menangkap. Kalau puisi ini tentang dua orang dengan latar belakang yang berbeda. Orang yang pertama adalah orang yang kurang Pendidikan, namun hidup di lingkungan tempat ia lahir. Ia sudah terbiasa merasakan kenyataan. Sepertinya, lingkungan orang itu adalah pedesaan, masih banyak ladang, petani, dan orang-orang yang bekerja secara tradisional. Berarti, si pemuda ini memperhatikan dan banyak belajar dari lingkungan sekitar rumahnya. Makannya, ketika ia melihat seonggok jagung, ia tidak memikirkan banyak materi, namun langsung kepikiran. Dari hasil panen jagung bisa menjadi maisena, bisa juga menjadi kue jagung dan tentunya bisa dijual.

Sedangkan, pria yang kedua adalah pemuda tamat SLA atau tamat SMA. Ia sudah terbiasa hidup dengan materi, tapi enggak banyak belajar soal kenyataan yang ada di depan matanya, ia hanya belajar lewat buku dan praktek yang bisa dibilang sedikit. Makannya, saat ia lepas dari materi dan dihadapkan dengan kenyataan. Ia kaget, merasa putus asa dan enggak tahu harus bagaimana.

Menurut aku tema dari puisi ini, tentang pendidikan dan bagaimana sikap seseorang menerapkannya kedalam kehidupan. Aku suka pemilihan diksinya, sangat jelas dan to the point. Aku juga suka, bagaimana WS Rendra memakai contoh perbandingan dua orang dan seonggok jagung. Menurut aku, puisi ini tuh, relate able banget. Nada yang cocok untuk membaca puisi ini adalah nada seperti sedang bercerita, namun ada unsur miris dan bersifat menyindir.

Amanat yang aku tangkap dari puisi ini, menjadi mahasiswa atau sekolah sampai jenjang tinggi tentu saja bagus. Namun, itu bukan satu-satunya cara untuk menuntut ilmu. Enggak bisa sekolah juga masih bisa sukses, masih bisa belajar banyak hal. Contohnya, si pemuda yang kurang sekolah. Walaupun enggak sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi. Ia tidak berkecil hati, ia masih bisa memperhatikan dan belajar banyak hal dari lingkungan rumahnya.

Saat membaca puisi ini, imaji yang aku bayangkan adalah diriku sendiri yang memilih pendidikan homeschooling. Aku merasa mirip dengan “pemuda kurang sekolahan”. Karena, selama homeschooling, aku enggak banyak belajar soal materi, aku merasa lebih banyak belajar bagaimana aku menjalani kehidupan ini.

Bahas Puisi: Di Pelabuhan

Kalau mendengar kata ‘puisi’ atau ‘penyair’, kemungkinan bayangan yang muncul di benak orang-orang adalah puisi “Aku Ingin” atau “Hujan Bulan Juni” karya Pak Sapardi Djoko Damono atau biasa terkenal dengan sebutan SDD. Atau mungkin yang terbayang adalah penyair seperti Chairil Anwar dan W.S Rendra. Karya-karya mereka memang sudah terkenal sampai ke luar negri dan di terjemahkan ke beberapa bahasa. Namun, kita juga punya lho, penyair muda Indonesia.

Ada Aan Mansyur, 4 puisi karya beliau dibacakan Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta 2. Kamu yang sudah nonton Ada Apa Dengan Cinta 2 pasti tidak asing dengan puisi beliau. Atau penyair lain seperti Faisal Oddang, J.S Khairen dan masih banyak lagi.

Nah, kali ini aku akan membahas salah satu puisi karya Adimas Immanuel yang juga termasuk penyair muda Indonesia. Begini puisinya:

 

Di Pelabuhan (Adimas Immanuel)

 

Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila

Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu

 

“Jangankan laut, maut pun kusebrangi!” katamu.

 

Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih

Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu

 

“Kau pengecut” katamu, dengan nada bercanda.

Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?

 

Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya

Menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita

 

Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja

Entah kapan penyesalan-penyesalan memungutnya

 

Kau membuatku kian terpencil

Ketika nasib tak kunjung bisa kucicil

Ini versi saat aku membacakan puisinya: klik di sini!

Itu dia, puisi “Di Pelabuhan” karya Adimas Immanuel. Puisi “Di Pelabuhan” adalah puisi favoritku dari buku Di Hadapan Rahasia. Menurut aku, puisi yang satu ini keren bangeeet, sekali baca langsung suka! Udah kayak love at first sight, hahahahaha.

Aku suka pemilihan diksinya yang cukup simple, kata-kata yang mudah dimengerti, namun masih ada rasa pusing mikir apa sih maksud dari puisi ini? Setelah berulang kali, akhirnya aku lumayan paham dengan puisi ini. Aku coba keluarkan opiniku untuk setiap bait yaaa:

Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila

Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu

– Yang aku tangkap, ini bagian dari imaji. Aku membayangkan sepertinya tempatnya di tengah laut, dengan kondisi ombak yang cukup besar karena pengaruh angin gila. Ombaknya seperti air yang ditiup.

– Tapi, aku juga menafsirkan hal lain. Bagaimana kalau bait itu mendeskripsikan kemarahan?

 

“Jangankan laut, maut pun kusebrangi!” katamu.

– Bagian ini seperti mendukung imajiku, sepertinya ada seseorang yang sedang melaut. Menghadapi ombak besar yang sudah dihasut angin gila.

– Bisa juga mendeskripsikan perasaan percaya diri atau sombong?

 

Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih

Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu

– Dari bait ini, yang aku tangkap rasa putus asa. Seperti habis mimpi tinggi-tinggi, namun, tiba-tiba jatuh. Atau Ia tidak bisa menggapai mimpinya, dan berakhir begitu saja.

 

“Kau pengecut” katamu, dengan nada bercanda.

Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?

– Di sini agak bingung sih, ia seperti sedang meledek orang lain, tetapi ternyata dirinya sendiri juga pengecut.

 

Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya

Menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita

– asumsiku, orang ini sedang saling curhat dengan temannya. Di tengah-tengah curhatan, mereka menjadikan bahan ledekan sebagai candaan. Supaya suasana tidak begitu tegang. Adanya kata “Bintang” juga mengembangkan suasana imajiku, terbayang sepertinya suasana malam hari.

 

Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja

Entah kapan penyesalan-penyesalan memungutnya

– setelah mencari tahu di KBBI, tertambat itu artinya “terikat”. Kalau kapal tua tertambat, bukan kah artinya kapal tua yang sedang terikat pada pelabuhan? Berarti… tadi mereka sedang di tengah laut dan sekarang sudah sampai di Pelabuhan. Namun, di jalan mereka sempat tertawa menikmati malam. Tetapi ketika sampai di Pelabuhan, sudah beda cerita lagi.

 

Kau membuatku kian terpencil

Ketika nasib tak kunjung bisa kucicil 

– sebenarnya aku kurang paham, tapi membaca kata terpencil aku jadi menyimpulkan, tokoh di puisi ini merasa kecil hati. Ia hanya bisa menerima kenyataan dan menjalankan hari-hari dengan pemikiran “sudah nasib”, sedangkan mimpinya hanya jadi hayalan belaka.

Saat membaca bait pertama, di benakku langsung terbayang suasana laut dengan ombak besar dan angin kencang. Membaca bait-bait berikutnya membuat imajiku berkembang, kepalaku seperti memutar film pendek! Aku juga suka bait ke lima, karena saat membaca bait ke lima, terasa santai saja gitu. Padahal suasananya lagi rada-rada suram.

Karena puisi bentuknya abstrak, jadi setiap pembaca pasti memiliki pandangannya masing-masing. Nah, kalau menurut kamu bagaimana nih? Apakah kita memiliki imaji yang sama, namun beda makna? Tulis di kolom komentar yaaa!

 

Refleksi term 1 2020

Awal tahun ini, term pertama oase “selesai” seebelum waktunya. Sebenarnya bukan selesai, tetapi ada kegiatan offline yang dilakukan secara online. Ini salah satu dampak dari social distancing. Misalnya, penutupan term awal tahun ini akan dilakukan secara online. Wide games yang rencananya akan jadi penutup kegiatan term ini, juga gagal dilaksanakan. Sedih sih, sudah membayangkan serunya keliling Jakarta sambil mengerjakan misi, eh ternyata enggak jadi…

Untung saja, sebelum social distancing. Kita sudah sempat melakukan kegiatan lain yang enggak kalah seru, ada multilateral, workshop art, workshop mobile videography + photography dan workshop travel writing. Kalau harus memilih, jujur aku enggak bisa memilih kegiatan apa yang menurutku paling seru. Soalnya, semuanya seruuuuu bangeeeettt.

Mulai dari multilateral yang membuat badanku sakit-sakit tetapi masih menyenangkan. Workshop art yang sebelumnya membuat aku enggak pede dengan hasil gambarku, namun, ternyata asyik banget. Ditambah lagi aku mendapatkan motivasi tentang menggambar dari kak Dudi, motivasi yang membuat rasa enggak pede tuh, jadi hilang.

Lanjut lagi ada Workshop mobile videography dan photography. Kalau ini sih, mantap! Kami diberikan pengetahuan dasar tentang mobile videography dan photography, ditambah lagi langsung praktek membuat video. Jadi pengetahuannya membekas diingatanku. Dan yang terakhir, workshop travel writing! Ini dia, workshop yang paling aku tunggu-tunggu, workshop yang menghilangkan rasa kangen akan materi menulis dari kakak-kakak mentor menulis. Rasanya, pengetahuan menulis yang aku punya seperti di-refresh.

Kalau menurut aku, konsep awal tahun ini juara! Workshopnya diikuti oleh semua penggalang. Jadinya enggak mencar gitu lho. Hal itu juga membuat aku lebih peka akan kemampuan diri sendiri dan kemampuan teman-temanku. Contohnya, saat workshop art, aku sempat tidak pede dengan hasil menggambar dan tidak terbiasa dengan gambar manual. Atau saat workshop mobile videography + photography aku juga sempat kikuk karena tidak terbiasa membuat video. Namun, saat workshop travel writing, aku merasa puas dan pede dengan hasil menulisku. Aku tidak mengalami kebingungan dan tinggal mengikuti arahan dari kak Anne.

Terakhir, harapanku. Semoga konsep term selanjutnya mirip dengan konsep term ini. Supaya kegiatan anak penggalang tidak terpencar. Duh, jadi enggak sabar nih, buat pertemuan term selanjutnya!