Daily Archives: June 15, 2020

Bahas Puisi: Seonggok Jagung

SEONGGOK JAGUNG

Oleh : W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Puisi kritik sosial, karya WS Rendra. Setelah membaca puisi ini, aku menangkap. Kalau puisi ini tentang dua orang dengan latar belakang yang berbeda. Orang yang pertama adalah orang yang kurang Pendidikan, namun hidup di lingkungan tempat ia lahir. Ia sudah terbiasa merasakan kenyataan. Sepertinya, lingkungan orang itu adalah pedesaan, masih banyak ladang, petani, dan orang-orang yang bekerja secara tradisional. Berarti, si pemuda ini memperhatikan dan banyak belajar dari lingkungan sekitar rumahnya. Makannya, ketika ia melihat seonggok jagung, ia tidak memikirkan banyak materi, namun langsung kepikiran. Dari hasil panen jagung bisa menjadi maisena, bisa juga menjadi kue jagung dan tentunya bisa dijual.

Sedangkan, pria yang kedua adalah pemuda tamat SLA atau tamat SMA. Ia sudah terbiasa hidup dengan materi, tapi enggak banyak belajar soal kenyataan yang ada di depan matanya, ia hanya belajar lewat buku dan praktek yang bisa dibilang sedikit. Makannya, saat ia lepas dari materi dan dihadapkan dengan kenyataan. Ia kaget, merasa putus asa dan enggak tahu harus bagaimana.

Menurut aku tema dari puisi ini, tentang pendidikan dan bagaimana sikap seseorang menerapkannya kedalam kehidupan. Aku suka pemilihan diksinya, sangat jelas dan to the point. Aku juga suka, bagaimana WS Rendra memakai contoh perbandingan dua orang dan seonggok jagung. Menurut aku, puisi ini tuh, relate able banget. Nada yang cocok untuk membaca puisi ini adalah nada seperti sedang bercerita, namun ada unsur miris dan bersifat menyindir.

Amanat yang aku tangkap dari puisi ini, menjadi mahasiswa atau sekolah sampai jenjang tinggi tentu saja bagus. Namun, itu bukan satu-satunya cara untuk menuntut ilmu. Enggak bisa sekolah juga masih bisa sukses, masih bisa belajar banyak hal. Contohnya, si pemuda yang kurang sekolah. Walaupun enggak sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi. Ia tidak berkecil hati, ia masih bisa memperhatikan dan belajar banyak hal dari lingkungan rumahnya.

Saat membaca puisi ini, imaji yang aku bayangkan adalah diriku sendiri yang memilih pendidikan homeschooling. Aku merasa mirip dengan “pemuda kurang sekolahan”. Karena, selama homeschooling, aku enggak banyak belajar soal materi, aku merasa lebih banyak belajar bagaimana aku menjalani kehidupan ini.