Bahas Puisi: Di Pelabuhan

Kalau mendengar kata ‘puisi’ atau ‘penyair’, kemungkinan bayangan yang muncul di benak orang-orang adalah puisi “Aku Ingin” atau “Hujan Bulan Juni” karya Pak Sapardi Djoko Damono atau biasa terkenal dengan sebutan SDD. Atau mungkin yang terbayang adalah penyair seperti Chairil Anwar dan W.S Rendra. Karya-karya mereka memang sudah terkenal sampai ke luar negri dan di terjemahkan ke beberapa bahasa. Namun, kita juga punya lho, penyair muda Indonesia.

Ada Aan Mansyur, 4 puisi karya beliau dibacakan Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta 2. Kamu yang sudah nonton Ada Apa Dengan Cinta 2 pasti tidak asing dengan puisi beliau. Atau penyair lain seperti Faisal Oddang, J.S Khairen dan masih banyak lagi.

Nah, kali ini aku akan membahas salah satu puisi karya Adimas Immanuel yang juga termasuk penyair muda Indonesia. Begini puisinya:

 

Di Pelabuhan (Adimas Immanuel)

 

Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila

Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu

 

“Jangankan laut, maut pun kusebrangi!” katamu.

 

Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih

Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu

 

“Kau pengecut” katamu, dengan nada bercanda.

Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?

 

Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya

Menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita

 

Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja

Entah kapan penyesalan-penyesalan memungutnya

 

Kau membuatku kian terpencil

Ketika nasib tak kunjung bisa kucicil

Ini versi saat aku membacakan puisinya: klik di sini!

Itu dia, puisi “Di Pelabuhan” karya Adimas Immanuel. Puisi “Di Pelabuhan” adalah puisi favoritku dari buku Di Hadapan Rahasia. Menurut aku, puisi yang satu ini keren bangeeet, sekali baca langsung suka! Udah kayak love at first sight, hahahahaha.

Aku suka pemilihan diksinya yang cukup simple, kata-kata yang mudah dimengerti, namun masih ada rasa pusing mikir apa sih maksud dari puisi ini? Setelah berulang kali, akhirnya aku lumayan paham dengan puisi ini. Aku coba keluarkan opiniku untuk setiap bait yaaa:

Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila

Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu

– Yang aku tangkap, ini bagian dari imaji. Aku membayangkan sepertinya tempatnya di tengah laut, dengan kondisi ombak yang cukup besar karena pengaruh angin gila. Ombaknya seperti air yang ditiup.

– Tapi, aku juga menafsirkan hal lain. Bagaimana kalau bait itu mendeskripsikan kemarahan?

 

“Jangankan laut, maut pun kusebrangi!” katamu.

– Bagian ini seperti mendukung imajiku, sepertinya ada seseorang yang sedang melaut. Menghadapi ombak besar yang sudah dihasut angin gila.

– Bisa juga mendeskripsikan perasaan percaya diri atau sombong?

 

Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih

Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu

– Dari bait ini, yang aku tangkap rasa putus asa. Seperti habis mimpi tinggi-tinggi, namun, tiba-tiba jatuh. Atau Ia tidak bisa menggapai mimpinya, dan berakhir begitu saja.

 

“Kau pengecut” katamu, dengan nada bercanda.

Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?

– Di sini agak bingung sih, ia seperti sedang meledek orang lain, tetapi ternyata dirinya sendiri juga pengecut.

 

Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya

Menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita

– asumsiku, orang ini sedang saling curhat dengan temannya. Di tengah-tengah curhatan, mereka menjadikan bahan ledekan sebagai candaan. Supaya suasana tidak begitu tegang. Adanya kata “Bintang” juga mengembangkan suasana imajiku, terbayang sepertinya suasana malam hari.

 

Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja

Entah kapan penyesalan-penyesalan memungutnya

– setelah mencari tahu di KBBI, tertambat itu artinya “terikat”. Kalau kapal tua tertambat, bukan kah artinya kapal tua yang sedang terikat pada pelabuhan? Berarti… tadi mereka sedang di tengah laut dan sekarang sudah sampai di Pelabuhan. Namun, di jalan mereka sempat tertawa menikmati malam. Tetapi ketika sampai di Pelabuhan, sudah beda cerita lagi.

 

Kau membuatku kian terpencil

Ketika nasib tak kunjung bisa kucicil 

– sebenarnya aku kurang paham, tapi membaca kata terpencil aku jadi menyimpulkan, tokoh di puisi ini merasa kecil hati. Ia hanya bisa menerima kenyataan dan menjalankan hari-hari dengan pemikiran “sudah nasib”, sedangkan mimpinya hanya jadi hayalan belaka.

Saat membaca bait pertama, di benakku langsung terbayang suasana laut dengan ombak besar dan angin kencang. Membaca bait-bait berikutnya membuat imajiku berkembang, kepalaku seperti memutar film pendek! Aku juga suka bait ke lima, karena saat membaca bait ke lima, terasa santai saja gitu. Padahal suasananya lagi rada-rada suram.

Karena puisi bentuknya abstrak, jadi setiap pembaca pasti memiliki pandangannya masing-masing. Nah, kalau menurut kamu bagaimana nih? Apakah kita memiliki imaji yang sama, namun beda makna? Tulis di kolom komentar yaaa!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s