Monthly Archives: April 2020

Refleksi term 1 2020

Awal tahun ini, term pertama oase “selesai” seebelum waktunya. Sebenarnya bukan selesai, tetapi ada kegiatan offline yang dilakukan secara online. Ini salah satu dampak dari social distancing. Misalnya, penutupan term awal tahun ini akan dilakukan secara online. Wide games yang rencananya akan jadi penutup kegiatan term ini, juga gagal dilaksanakan. Sedih sih, sudah membayangkan serunya keliling Jakarta sambil mengerjakan misi, eh ternyata enggak jadi…

Untung saja, sebelum social distancing. Kita sudah sempat melakukan kegiatan lain yang enggak kalah seru, ada multilateral, workshop art, workshop mobile videography + photography dan workshop travel writing. Kalau harus memilih, jujur aku enggak bisa memilih kegiatan apa yang menurutku paling seru. Soalnya, semuanya seruuuuu bangeeeettt.

Mulai dari multilateral yang membuat badanku sakit-sakit tetapi masih menyenangkan. Workshop art yang sebelumnya membuat aku enggak pede dengan hasil gambarku, namun, ternyata asyik banget. Ditambah lagi aku mendapatkan motivasi tentang menggambar dari kak Dudi, motivasi yang membuat rasa enggak pede tuh, jadi hilang.

Lanjut lagi ada Workshop mobile videography dan photography. Kalau ini sih, mantap! Kami diberikan pengetahuan dasar tentang mobile videography dan photography, ditambah lagi langsung praktek membuat video. Jadi pengetahuannya membekas diingatanku. Dan yang terakhir, workshop travel writing! Ini dia, workshop yang paling aku tunggu-tunggu, workshop yang menghilangkan rasa kangen akan materi menulis dari kakak-kakak mentor menulis. Rasanya, pengetahuan menulis yang aku punya seperti di-refresh.

Kalau menurut aku, konsep awal tahun ini juara! Workshopnya diikuti oleh semua penggalang. Jadinya enggak mencar gitu lho. Hal itu juga membuat aku lebih peka akan kemampuan diri sendiri dan kemampuan teman-temanku. Contohnya, saat workshop art, aku sempat tidak pede dengan hasil menggambar dan tidak terbiasa dengan gambar manual. Atau saat workshop mobile videography + photography aku juga sempat kikuk karena tidak terbiasa membuat video. Namun, saat workshop travel writing, aku merasa puas dan pede dengan hasil menulisku. Aku tidak mengalami kebingungan dan tinggal mengikuti arahan dari kak Anne.

Terakhir, harapanku. Semoga konsep term selanjutnya mirip dengan konsep term ini. Supaya kegiatan anak penggalang tidak terpencar. Duh, jadi enggak sabar nih, buat pertemuan term selanjutnya!

Langit Jakarta

Satu bulan yang lalu, lebih tepatnya awal bulan Maret 2020. Presiden kita, Bapak Jokowi, menyatakan kalau virus covid-19 yang sedang menjalar ke seluruh dunia, ternyata masuk ke Indonesia. Daerah JABODETABEK, menjadi tempat pertama munculnya virus covid-19. Semua orang seketika panik, heboh banget, parno beli banyak masker, obat-obatan, hand sanitizer, bahan makanan yang berlebihan, pokoknya supermarket ramai dengan orang-orang yang belanja, belanja sudah kayak mau buka toko dadakan. Itu contoh orang-orang yang memberi reaksi berlebihan, ini ada lagi kelakuan orang yang kelewat cuek. Panik sih, enggak, ketakutan juga enggak, eh tiba-tiba pergi liburan. Aduh… kelakuan-kelakuan yang begitu tuh, bikin tepuk jidat. Kalau pembaca bagaimana nih? Apa yang dirasakan saat covid-19 masuk ke Indonesia?

Kalau aku, mencoba tenang dan bersikap waspada. Dari pada ngeri dan kesal lihat berita yang buruk-buruk tentang covid-19. Aku lebih memilih mencari tahu tentang hal baik dari virus ini. Memang ada hal baik? Jawabannya ada. Nah awal bulan itu, aku menemukan sebuah berita yang dapat menenangkan hati. Kabar itu tentang, penurunan polusi udara yang ada di China.

Baca informasi tentang polusi udara, aku jadi ingat Jakarta. Siapa sih, yang enggak kenal kota Jakarta? Jalan raya selalu penuh dengan kendaraan pribadi, kendaraan umum atau ojek online, membuat jalanan macet parah dibeberapa titik. Belum lagi, pabrik ada di mana-mana, pembangunan terus berjalan, pohon berkurang. Polusi udara terkadang sampai di titik terburuk, membahayakan kesehatan mahluk hidup. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa kota Jakarta sudah tidak bisa dihuni karena polusi udara yang parah.

Di tengah keadaan seperti ini, seketika virus covid-19 datang. Bagaikan kekuatan yang dapat menghentikan sesuatu yang mustahil. Hal mustahil maksud aku itu, memberhentikan aktivitas kendaraan. Seperti keadaan saat ini,  orang-orang diminta untuk mengkarantina diri sendiri, mengurangi aktivitas keluar rumah, mengurangi interaksi dengan banyak orang—kecuali interaksi lewat internet.

Contohnya, para pelajar dan mahasiswa sudah dua minggu tidak belajar ke sekolah atau ke kampus. Mereka belajar menggunakan sistem online, memanfaatkan teknologi yang ada. Para pekerja kantoran juga begitu, karena beberapa kantor sudah menerapkan “work from home”, jadi untuk sementara tidak perlu pergi ke kantor. Tidak ada yang keluar rumah, berarti tidak ada yang memakai kendaaran untuk keluar rumah. Jalanan jadi sepi, tidak banyak kendaraan umum yang lalu-lalang. Seharusnya sih, polusi udara sudah sedikit berkurang yaa…

Memang sih, aku akui si covid-19 menyebalkan. Si virus udah satu bulan lebih tinggal di Indonesia, membuat aku jadi enggak bisa kemana-mana, cepat bosan karena di rumah terus, kangen teman-teman, ingin main, pokoknya kesaaaal. Namun, kalau bumi memiliki perasaan. Bagaimana perasaannya? Aku pikir, sepertinya bumi merasa sedikit lega. Langit juga seperti habis pakai skin care, terlihat lebih cerah dan bersih.

Sejauh ini, dari informasi yang aku dapatkan melalui instagram dan twitter. Ternyata memang ada banyak orang yang berpendapat, kalau langit Jakarta lebih cerah, bersih dan jernih. Kalau bahasa zaman sekarang, glowing gitu deh, langitnya.

Bagaimana nih, warga Jakarta? Langitnya beneran lebih jernih dan bersih? Kalau benar begitu, aku jadi ingin main ke Jakarta—eh tapi enggak boleh keluar rumah.

Harapan aku, semoga covid-19 cepat pergi dari Indonesia dan semoga, warga Jakarta dan sekitarnya masih mau memikirkan cara supaya langit Jakarta tetap bersih, cerah dan jernih. Misalnya, kurangi pemakaian kendaraan pribadi dan lebih sering naik kendaraan umum. Jangan didatengin wabah dulu baru udaranya membaik, hahahahha.