” aku seorang homeschooler “

hai aku Anja, aku lahir tahun 2005. Aku seorang Homeschooler, jadi sehari-harinnya aku belajar di mana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Dan yang paling aku suka adalah belajar tentang Fashion Design. Cita-citaku menjadi Designer Baju dan Penulis

Advertisements

Ekspedisi Situ Gunung (Lutung) dan Gunung Halimun (Owa)

Pada pertengahan atau akhir bulan juli 2018, anak penggalang oase akan ekspedisi. Ekspedisi ini di bagi menjadi dua tim yaitu Lutung dan Owa. Perbedaan tim ini adalah Tim Lutung akan ekspedisi ke Situ Gunung sedangkan Tim Owa akan ekspedisi ke Gunung Halimun.

Keterangan tentang Gunung Halimun :

Lokasi : jl. Raya Cipanas, kec. Kabandungan, malasari, nanggung, sukabumi, Jawa Barat.

Kendaraan : naik kereta atau naik bis sampai sukabumi

Hewan :

  • Owa Jawa
  • Macan Tutul Jawa
  • Burung Elang Jawa

Puskesmas terdekat : Curug Bitung

 

Keterangan tentang Situ Gunung :

Lokasi: Desa Suka Manis, Kec. Kadu Kampit, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

Transportasi :

  1. Naik kereta menuju Bogor, naik lagi kereta tujuan Bogor Palegan-Sukabumi, turun di stasiun cisaat.
  2. Menyewa angkutan langsung sampai situ gunung perkiraan biaya Rp. 80.000.

Terdapat Hewan

  • Lutung
  • Bajing kelapa
  • Tawon
  • Lintah

Puskesmas : Kadu Kampit

terdapat :

air terjun situ gunung

danau situ gunung

jembatan gantung

 

Perjalanan Tanpa Sampah

Pada hari Rabu 28-maret-2018, terdapat acara tentang Zerowaste yang diadakan di Universitas Ibnu Chaldun. Sebenarnya anak Penggalang wajib mengikuti acara ini, sayang sekali aku tidak bisa hadir karena sakit.

Untung saja aku sudah menitip buku Zerowaste kepada Ratri, jadi Ratri mengirim bukunya lewat JNE. Ketika bukunya sampai di rumah, aku langsung membacanya dan mulai membuat rangkuman tentang buku Zerowaste.

Di buku ini terdapat banyak bab yaitu

  • Ekspedisi Nol Sampah.
  • Gunung Gede Mendaki Tanpa Sampah.
  • Gunung Tambora Menyapa Dunia.
  • Gunung Papandayan Merdeka Dari Sampah.
  • Gununng Lawu Filosofi Rumah Botol.
  • Gunung Argopuro Senyum Rengganis Di Taman Hidup.
  • Pesan Dari Rinjani Dan Semeru.
  • Petualangan Di Mulai Dari Rumah.
  • Kesederhanaan Perlu Proses Yang Rumit.

 

Bab yang paling aku suka adalah Pesan Dari Rinjani Dan Semeru. Bercerita tentang ekspedisi ke Gunung Rinjani. Kak Siska juga bercerita tentang bagaimana perasaannya ketika mendaki gunung Rinjani. Contohnya ketika perjalanan turun, perasaannya tidak karuan. Bukan karena harus berjalan lambat tertatih karena engkel kaki yang sedikit cedera.

Menurutnya berjalan lambat-lambat membuat kak Siska bisa melihat tumpukan sampah yang berada di sudut-sudut semak Rinjani. Pemandangan itu membuat perasaan sebal. Lembaran-lembaran tisu juga bertebaran hampir di setiap sudut, menutupi bekas hajat.

Disemua bab juga terdapat pesan tentang perjalanan Zerowaste, seperti:

  1. Setiap orang membawa dua botol minum berukuran 1L.
  2. Membeli sayuran di pasar terdekat sebelum mendaki.
  3. Beberapa sayuran bisa di bungkus kain atau di masukan kedalam tempat bekal.
  4. Membawa buah-buahan seperti apel, jeruk dan pir.

Kesimpulan menurutku adalah buku ini bercerita tentang perjalanan ke lima gunung dan tidak menghasilkan sampah kemasan. Setiap gunung yang di datangi pasti terdapat beberapa tumpukan sampah. Di setiap bab juga terdapat beberapa tips.

Pertemuan Pramuka ke-6

Kegiatan pagi ini adalah bermain games Body Guard bersama kak Dinda. Setelah bermain games kami di berikan sarapan pagi risol dan lontong. Sekitar pukul 07.00 kami berkumpul lagi tetapi sesuai kelompok dan pembinanya, untuk menjelajah hutan di pagi hari.

Ketika masuk ke dalam hutan, kami sudah menemukan serangga berbentuk lingkaran, berwarna coklat muda dan sedang menempel di daun. Setelah bertanya ke pada kak Pawo ternyata ini adalah kecoak hutan.

Berjalan beberapa langkah lagi, kami sudah sampai di tempat mencetak jejak hewan. Kami semua langsung bergegas mengambil jejak tersebut, dengan cara menggali sekitarnya dan mulai menggambil secara perlahan-lahan.

“ayo kumpul di sini” ucap salah satu kakak Sekala Petualang. kami kumpul untuk belajar membuat api unggun dan memasak. Kami diajarkan bagaimana membuat api unggun hanya dengan korek api dan kayu.

Akhirnya masing-masing kelompok mulai mencoba membuat api unggun. Kelompok kami berhasil membuat api unggun dengan sempurna. Kami semua berkumpul kembali untuk menjelaskan bagaimana kami bisa membuat api unggun. Kak etang juga mempraktekkan cara membuat nasi yang enak.

Akhirnya perlombaan dimasak dimulai. Kami berencana memasak capcay dan tempe goring tetapi tempenya sudah busuk. Ratri dan Michelle mengusulkan untuk memasak telur dadar. Akhirnya kami memasak ke dua menu tersebut.

“lima menit lagii” ucap kakak Sekala Petualang. kami semua panik karena kebersihan dan penampilan makanan juga di nilai. Sedangkan tempat memasak kotor dan makanan belum dihias.

Kami semua sangat terburu-buru sampai akhirnya selesai dan makanan di kumpulkan di tengah-tengah untuk di coba dan presentasi kelompok. Aku, Khansa dan Michelle presentasi untuk makanan kami.

Setelah menunggu para juri berdiskusi siapa pemenangnya, akhirnya diumumkan juga siapa pemenangnya. Ternyata pemenangnya adalah kelompok Katelia, kami sekelompok langsung merasa senang sekali.

Sampai di IPB

pukul 09.00 pagi aku sampai di Stasiun Bogor. Di sana aku bertemu dengan Kaysan, Husayn, Alev, Ali dan Adinda. Sedangkan teman-teman yang lain masih di Peron, tak lama kak Etang, Kak Bagus dan kak pawo datang. Teman-teman yang berada di Peron juga mulai datang.

Kami mulai berbaris sesuai kelompok, setelah lengkap satu persatu kelompok mulai berjalan menuju angkot yang akan kami naiki. Diperjalanan kami semua mengobrol dan bercanda. Ketika sampai terminal laladon semua turun dang anti angkot yang menuju Kampus IPB dalam.

Diangkot ini kami juga mengobrol dan bercanda, tiba-tiba angkot berbelok ke kiri dan langsung ngerem. Kami yang berada di dalam angkot terkejut, ternyata terdapat mahasiswa yang akan ikut sampai Kampus IPB.

Tak lama akhirnya kami sampai juga di Kampus IPB, ketika sampai kami bertemu kelompoknya Kaysan. Pada saat itu juga kami semua mulai jalan lagi menuju aula tempat kami akan meninap. Baru setengah perjalanan aku sudah merasa sangat capek, padahal perjalanan masih jauh.

“wrooofff, wroooofff, wwrrooooff” suara anjing coklat yang besar terdapat di depan aula yang akan kami tinggali. Aku terkejut sekaligus takut karena ketika kami ingin memegang, anjing tersebut menggonggong sangat keras. Tetapi sebenarnya anjing tersebut baik dan nurut.

Sekitar pukul 14.45 kami upacara, setelah itu kami mulai menjelajah hutan di sore hari bersama masing-masing kelompok dan kakak pembinanya. Mulai membawa peralatan yang dibawa, seperti jaring, teropong, kamera dan buku catatan.

“wow pintu masuk hutannya seperti di film-film” ucap beberapa orang di kelompok kami. Jadi ketika kami masuk banyak akar napas yang bergelantungan dari pohon sebelah kanan ke pohon sebelah kiri.

Di dalam hutan udaranya sangat segar, tidak banyak cahaya matahari yang masuk. Dengan begitu hutan ini termasuk hutan yang bagus. Di sepanjang jalan kami memfoto hal-hal yang menarik mulai dari tanaman sampai tumbuhan.

Menuruni sebuah tangga yang terbuat dari bebatuan dan akhirnya kami menemukan jejak macan. Sebenarnya ini adalah jejak yang sudah di cetak oleh kakak-kakak Pembina. Mulai mengeluarkan semen putih, air dan tempat untuk mengaduk. Bahan ini akan kami gunakan untuk mencetak jejak macan yang sudah di temukan.

Setelah selesai mencetak kami mulai berjalanan menuju arah aula. Di sepanjang jalan kak Pawo menjelaskan tumbuhan dan serangga yang kami temui. Ketika keluar dari hutan kami menemui banyak tanaman bambu yang melengkung dan meneduhkan.

Beberapa saat kemudian sampai di aula, kak Pawo menyuruh kami untuk bersih-bersih setelah itu membuat daftar makanan yang akan di beli. Kelompok kami memutuskan untuk membeli nasi padang seharga Rp.15.000.

Ratri dan kak Pawo pergi menggunakan motor untuk membeli nasi padang. Sedangkan kami mengobrol dan bercanda bersama. Ketika Ratri sampai kami langsung mengambil nasi pada masing-masing dan segera menyantapnya.

Pukul 19.00 kami segera bersiap-siap dan berangkat menuju pengamatan malam di hutan yang dikunjungi siang hari. Saat pengamatan kami di temani oleh kak Bambang, ia adalah seorang ahli binatang reptile.

“kalau kita menemukan hewan reptile, kalian harus megang yaa” ucap kak Bambang. Kami semua langsung merasa takut. Apalagi di tambah kalau kami akan menemukan ular. Hewan yang pertama kali kami temukan adalah cicak batu dengan nama latin cyrtodactylus fumosus.

Kak Bambang mengambil cicak batu tersebut dan kami semua harus memegangnya. Dari kelompok kami orang pertama yang memegang cicak batu adalah Khansa setelah itu aku. Ketika memegang cicak tersebut aku merasa geli dan ketakutan.

Permukaan badan cicak batu seperti berbulu, tangannya memiliki cakar sehingga dia tidak bisa menempel di tembok rumah. Semua telah memegang cicak tersebut, Khansa pun kembali memegang cicak batu itu. Ternyata cicak batu itu sudah nyaman bersama Khansa.

Kami melanjutkan perjalanan sambil memperhatikan hewan lain ternyata kami menemukan Tokek dengan nama latin Gecko Gekko. Tokek ini tidak kami ambil karena berbahaya, jika ingin di ambil harus menggunakan beberapa peralatan.

Tokek ini berwarna hijau dengan bercak polkadot orange di kulitnya. Di atas pohon juga terdapat Bungelon yang bergelantungan di daun. Kata kak Bambang Bungelon tersebut sedang tidur. Setelah selesai menjelajah kami kembali ke Aula dan membahas hewan yang kami temui.