” aku seorang homeschooler “

hai aku Anja, aku lahir tahun 2005. Aku seorang Homeschooler, jadi sehari-harinnya aku belajar di mana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Dan yang paling aku suka adalah belajar tentang Fashion Design. Cita-citaku menjadi Designer Baju dan Penulis

Advertisements

Dadah Pulau Seribu

“Anja, Anja, Anja bangun” teriak Tata dari luar tenda. Aku langsung terbangun, karena hari ini kami akan pulang.

“Anja kita cuci tempat bekal yuk” ajak Ceca. Kami berjalan ke tempat cuci piring di depan rumah ibu Sani.

Selaesai mencuci piring kami membereskan dalam tenda dan segera membongkar tenda.

“sebelum berangkat kita oprasi semut dulu ya” ucap kak Ali. Kami berjalan di tempat kemping sambil memperhatikan sekitar. Ada yang menemukan sampah, pasak, koin dll.

“sudah jam tujuh nih, kita jalan ke Dermaga ya” ucap kak Shanty. Kali ini kami akan naik kapal kayu Dolphin sampai pelabuhan muara angke.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya kapal Dolphin datang. Berhenti di pinggir dermaga dengan jarak satu langkah besar. Jadi Ali dan Fattah masuk duluan, kami memberikan barang bawaan kepada mereka, kami loncat. Perasaanku pada saat itu sangat deg-degan karena takut jatuh.

Di dalam juga banyak ikan hias seperti ikan badut yang ditangkap dan dimasukkan ke dalam plastik berisi air “bukan kah ikan jenis ini tidak boleh di tangkap?” pikirku. Aku juga melihat ikan-ikan lainnya.

“naik ke atas aja dek” ucap seorang bapak-bapak. Akhirnya kami naik keatas, di atas tidak ada tempat duduk. Jadi modelnya seperti lesehan, sedangkan di bawah terdapat tempat duduk, ada dek juga tetapi aku tidak berani kesana karena takut jatuh.

“duh, kapalnya goyang banget” gumamku. Kalau naik kapal ini guncangannya sangat terasa, membuat kita pusing untung saja sudah minum antimo.

“Adik-adik yang mau beli sarapan sama kakak ya” ucap Kak Melly. Aku dan Ratri akan membeli sarapan untuk kelompok Dublob.

“ayo Rat, lewat sini aja” ucapku. Kali ini kami harus loncat agar bisa turun dari kapal. Ketika melihat ada gerobak penjual kami langsung menghampiri penjual itu. Di sana juga sudah ada kak Opal dan Kak Ali.

Kami membeli lemper lima dan gorengan lima semua totalnya Rp. 20.000,-. Ternyata benar gorengan di pulau mahal-mahal. 

Setelah membeli sarapan kami langsung balik ke kapal, naik ke atas dan membagikan makanan. Aku mencoba lemper, rasa lempernya sama dengan yang biasa aku makan, isinya pun sama yaitu abon. Aku juga mencoba gorengan ketan, bentuknya bulat, terbuat dari ketan, di dalamnya berisi ikan, rasanya pedas dan rasa ikan. 

Setelah makan kami semua tertidur di kapal, ada yang nyender di tiang, ada yang tiduran di dekat tas, ada yang tiduran di paha/bahu temannya dan ada juga yang menyender di pinggiran kapal.

“Anja bangun kita udah sampe” ucap Ceca yang berada di sebelahku. Aku segera bangun dan mengambil barang bawaan. Kami turun dari kapal dan berdiri di depan trans Jakarta. Ratri di jemput oleh keluarganya, Fattah juga di jemput, sedangkan kami yang ikut ke St. Jakarta Kota naik trans Jakarta.

“Kay, coba tanya udah boleh naik belum” tanya kak Shanty kepada Kaysan. Soalnya kami sudah menunggu sekitar tigapuluh menit tetapi tidak di perbolehkan masuk. Akhirnya kak Shanty dan Kak Melly berbicara kepada supir trans Jakarta. Tetapi supir tersebut malah marah-marah. Akhirnya kami di perbolehkan untuk masuk, tak lama trans Jakarta jalan.

Sesampainya di stasiun aku nebeng sama katya sampai rumah, karena rumah kami dekat. 

 

 

 

 

 

 

Ada Setan Di Kamar Mandi

“Uhhh, panas” gumamku, aku terbangun karena baju terasa basah keringat. Di dalam tenda kami sangat panas, pengap dan banyak nyamuk, jadi kami tidur tidak nyenyak, malam hari juga sering terbangun. Kebetulan pada saat itu Trisha juga bangun karena kepanasan. Akhirnya kami ke kamar mandi bareng, untuk sikat gigi dan cuci muka.

Sehabis dari kamar mandi, aku mulai menulis logbook. “krrriiuuuukkk” terdengar suara lapar dari perut kami, aku langsung berhenti menulis jurnal dan segera memasak. Rencananya aku akan membuat capcay, aku mengambil wortel, kol, jagung kecil dari dalam tenda. Ketika aku buka bungkusnya semua sayuran busuk terkecuali kol.

“Ratriii, sayuran kita busuk” ucapku kepada Ratri. Ratri yang sedang membuang nasi kaget mendengar kabar itu.

“Trus kita makan apa nja?” tanya ratri. Aku melihat kentang di tas kecil, “aha, buat kentang goreng aja” ideku. Aku segera mengupas kentang dengan hati-hati, “aduh” ucapku ketika tanganku tergores pisau. Ratri yang mendengar ucapan itu segera bertanya kepadaku, ia juga segera mengobati tanganku.

“Makasih Ratriii” ucapku. Sementara itu Ceca membantuku mengupas kentang, setelah di potong-potong kentang dibumbui garam saja. Aku mulai membuka kompor, menaruh penggorengan yang berisi minyak, saat minyak sudah panas aku mulai menggoreng. Tak lama beberapa potongan kentang sudah matang dan siap di sajikan.

“Anja cantik deh, minta kentangnya dong” ucap kaysan.

“Andini cantik deh, minta kentangnya dong” pinta kaysan.

Begitulah Kaysan kalau ada maunya, moduuus, tapi ya bolehlah ya  para anak laki-laki mencicipi kentang goreng kami, kasihlah, daripada habis ini muncul puisi-puisi modus.

“wah, Anja juga bikin kentang. Nyobain yaa” ucap alev. Aku juga mencoba kentang buatan Alev, potongannya besar-besar, bagian dalam kentang masih keras, tetapi masih enak kok.

“kak Ali, cobain kentang buatan aku dong” ucapku, yang melihat kak Ali.

“boleh” jawab kak Ali.

“gimana rasanya?” tanyaku.

“enak tapi motongnya di tebelin lagi, trus garamnya jangan banyak-banyak” saran kak Ali. Akhirnya kak Ali memberi contoh bagaimana cara memotong kentang yang enak. Ternyata potongan kentang kak Ali seperti di resto-resto.

“oke, semua kumpul dulu ya, kakak mau membahas tentang logbook” ucap kak Melly. Kami semua kumpul di depan tenda regu Dublob.

“oh ya kalian tahu tidak perbedaannya logbook dan jurnal” tanya kak Melly. Rata-rata menjawab “kalau logbook selalu ada waktunya kalau jurnal tidak”.

“yaa, kalau menulis logbook banyakin deskripsi, perasaan dan waktu” jawab kak Melly.

“jadi kalau meresa ada yang perlu diperbaiki, perbaiki lagi nanti sore di kumpulkan” ucap kak Melly.

“kalau aku sepertinya sudah lengkap kak” ucap Syauqi. Kami semua tertawa karena ke PDan Syauqi.

“okay sekarang kalian boleh main air” ucap kak Melly. Semua bersorak “yeaay” dan langsung bersiap-siap. Saatnya ganti baju renang.

Kami kumpul di dekat tenda regu garam laut, kak Ali juga mengajak kami untuk keliling pulau. Kami jalan di atas beton yang mengelilingi setengah pulau. Di jalan kami melewati pemadam kebakaran, kuburan, jalan yang terpisah dan sampai di ujung jalan.

“eh, jalannya buntu” ucap salah satu dari kami yang berjalan di depan. Ternyata kita salah jalan, seharusnya tadi kami belok kanan bukan lurus. Kami menyebrang ke jalan di sebelah kanan, melewati genangan air dan pasir.

“itu ada biawak” teriak salah satu dari kami ketika melihat biawak lari. Ali yang ada di dekat biawak itu juga ikut lari kencang.

“hmm, kak Ali kemana yaa”ucapku dalam hati. Tiba-tiba kak Ali muncul dan memberitahu jalan mana yang harus kami lewati.

Tak lama kami sampai di tepi pantai, tetapi di pantai ini kami tidak bisa berenang karena airnya cetek. Akhirnya kami pindah pantai, ke pantai yang berada di belakang tempat kami kemping. Pantai di sini airnya setinggi 1,5 meter-3meter. Pasirnya juga halus, di bibir pantai terdapat batu-batu, di tengah air laut terdapat saung, banyak karang di bawah laut, jadi kalau berenang sebaiknya pakai alas kaki.

“ayo kita marathon renang” ajak Kak Shanty. Ayo yang kemlompok laki-laki dulu, kelompok Anjing laut vs kelompok Garam laut.

“ayo, ayo, ayo semangat” sorak kami yang menonton mereka.

“sekarang yang kelompok perempuan dong” ucap kak Shanty. Tapi hanya beberapa orang saja yang ikut, aku saja tidak ikut karena takut hehehehehe :D. Akhirnya aku dan beberapa orang yang tidak ikut hanya menjadi cheerleader. Setelah marathon ini, ada beberapa orang yang ingin melakukannya lagi jadi….. “ayo kita marathon sekali lagi, kali ini marathonnya campur yaa” ucap kak Shanty. Akhirnya perempuan dan laki-laki di gabung.

“hosh, hosh, hosh” suara nafas katya, sehabis marathon ini katya berbaring di pinggir pantai.

“Anja coba cek kaki aku ada yang luka nggak?” ucap katya.

“ada kat di jempol” ucapku. Ketika melihat luka di kakinya, akupun segera membantu katya untuk duduk di kursi.

“Ratriiii, p3k kamu dimana?” teriakku dari jauh. Ratri memberi tahu bahwa p3knya terdapat di teras tenda. Aku segera berlari kearah tenda, mengambil p3k dan berlari ke tempat katya lagi. Aku segera memberi betadin ke luka katya dan menutupnya dengan hansaplast/plester.

Karena sudah puas bermain air, aku, Ceca dan Trisha mandi. Ini juga sudah jam makan siang, jadi sehabis mandi aku memasak makan siang. Tetapi kak Shanty mengusulkan agar menu makan siang di gabung saja. Aku memasak telur ceplok balado, Alev masak nasi, Kakak mentor ikan bakar, Ali telur orak-arik.

Aku mulai memanaskan minyak, setelah minyak panas telur di ceplok, aku memasak tujuh butir telur, setelah semua telur jadi, mulai tumis bumbu balado, tambahkan bawang merah, masukan telur, aduk sampai rata dan telur ceplok balado siap disajikan. Semua masakan selesai, Fakhri dan Kaysan mengambil daun pisang untuk alas makan.

“Ayoo, makan siang dulu” panggil kami yang baru selesai makan. Yang sedang berenang naik ke darat dan ikut makan. Setelah makan aku, Tata, Trisha, Ceca, Katya, Syauqi dan Tre mengobrol dan curhat-curhatan.

Tak terasa sudah sore saja, aku melanjutkan menulis logbook di depan tenda. “coba kakak liat logbooknya dong” ucap kak Melly yang sedang berdiri di sebelahku. Sebenarnya aku terkejut, tiba-tiba ada kak Melly di sebelahku. Apalagi ia meminta untuk melihat buku jurnalku.

“anja, kita masak malam di gabung lagi ya” ucap Fattah, tetapi aku tidak bisa menjawab perkataan Fattah. Karena sedang di revisi oleh kak Melly. Tak lama kemudian revisinya selesai.

“Kak, kita makan malamnya seperti tadi siang?” tanyaku kepada kak Shanty.

“kalian diskusi dulu aja sama kelompok lain” jawab kak Shanty. Karena kelompok lain maunya juga gitu, jadi kami masaknya bareng deh, Alev masak nasi lagi, Anja masak telur ceplok balado lagi, Ali cumi asin dan Tata sop sayur.

“ehh, kalian punya bakso kan?” tanya tata ke pada aku dan ratri.

“ada tunggu yaa” jawab Ratri. Ia segera mencari bakso itu di dalam tenda, tetapi tidak ketemu.“mungkin di ambil kucing” gumamku.

aku mulai memanaskan minyak, ketika panas mulai menceplok telur, sebenarnya kalau masak telur ceplok minyaknya selalu saja muncrat, tiba-tiba “aaaaaawwww” ucapku kaget ketika minyak muncrat mengenai tanganku.

“siram air dulu nja, abis itu kasih obat ini” ucap michelle yang baru saja meminta obat luka bakar ke Kak Shanty.

“makasih yaa michelle” ucapku. Akupun melanjutkan memasak. Kali ini semua kelompok yang mempunyai telur, menyumbangkannya kepadaku untuk di masak.

Semua masakan selesai, sekarang saatnya di bawa ke saung besar yang terdapat di belakang tenda. Kami juga mengambil tempat makan dan tempat minum masing-masing. Walaupun makan malam kali ini gelap-gelapan tetapi tetap enak, ditambah lagi menunya lengkap, pokoknya top deh 👍.

“duh, mana aku mau ke toilet lagi” ucap Michelle yang duduk di sebelahku.

“bareng aku aja chelle” ucapku.

“kak kami izin ke toilet yaa” izin michelle kepada kak Melly.

“oke jangan lama-lama yaa” ucap kak Melly. Kamipun jalan ke toilet.

“chelle sebenernya kalau udah malam gini aku takut ke toilet serem” ucapku kepada michelle.

“ihh, sama aku juga” ucap michelle. Kami jalan ke toilet dengan rasa takut dan tegang. Akhirnya kami masuk ke toilet bareng karena takut.

“srek, srek” terdengar suara langkah dari luar kamar mandi. “pasti ada orang diluar” gumamku. Kami keluar kamar mandi, tetapi di luar tidak ada orang.

“dddooooorrrr” teriak seseorang dari balik tembok, dengan senter yang menghadap ke muka.

“AAAAAAAAAAAAKKKKKKKK” teriak aku dan Michelle ketakutan.

“Aliii” kami marah, karena sudah mengagetkan kami.

“eh, sorry-sorry dikira aku kalian Fakhri” jawab ali. Kami berdua jalan menuju saung.

“kresek-kresek” terdengar suara lagii. Michelle berlari ketakutan, aku memegang tangan Michelle dan kami lari bareng sampai ke saung. Sampai saungpun aku masih gemetar ketakutan karena dikagetkan oleh Ali, kukira itu adalah setan :D.

“oke, sekarang kita main ya” ucap kak Melly.

“sekarang pilih benda apa saja yang ada di sini” ucap kak Melly. Aku memilih panci.

“sekarang cara mainnya, benda yang kalian pilih akan menjadi mana kalian” beritahu kak Melly.

“jadi mainnya gini, misalnya pendopo ke tikar” contoh kak Melly (pendopo) menunjuk ke kak Shanty(tikar). Kami pun bermain sampai ada pemenangnya, dan pemenangnya adalah Fattah.

Kami semua sudah meresa ngantuk, akhirnya kak Melly menyuruh kami untuk tidur. Susunan tidur di tenda kali ini adalah Ceca pojok sebelah kiri, Anja di sebelah Ceca, Trisha di sebelah Anja dan Andini di sebelah pojok kanan, sedangkan Ratri memilih untuk tidur di regu Putri Doyong. Selama tidur Ceca menimpaku dan aku menimpa Ceca, jadi Trisha dan Andini bisa tidur dengan nyenyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pulau Karya Aku Datang

“Kresek, kresek”, “suara apa itu?” gumamku. Ketika aku bangun Andini sudah mondar-mandir sana-sini. Ternyata suara tadi juga berasal dari Andini.

“Sekarang udah jam berapa Andini?” Tanyaku kepada Andini.

“Udah jam setengah enam nja” jawab Andini. Aku langsung siap-siap karena pukul 08:00 sudah harus jalan dari sini. Tak lama kemudian yang lain pun bangun, mereka juga langsung siap-siap seperti aku.

guys, kita sarapan dulu yuk, udah jam setengah tujuh” ajakku. kami semua langsung jalan menuju tempat makan. Sarapan pagi ini adalah Nasi uduk, telur rebus balado, bihun dan kerupuk.

Aku, Ratri, Andini, Ceca, Trisha, Fattah dan Ali akan pergi jalan-jalan keliling pulau sebentar. Sebenarnya kami ingin pergi ke pantai Sakura, tetapi waktunya tidak cukup jadi kami pergi ke tempat duduk-duduk di dekat Pelabuhan.

Pada pukul 08:00 kami sudah sampai di Mess lagi, ketika kami sampai yang lain sedang mengeluarkan barang-barang mereka ke luar kamar. Jadi kami juga langsung melakukan hal yang sama.

 

foto sblm berangkat1 Sebelum berangkat ke pelabuhan kami berfoto dulu, 📱Google pixel.

“udah jam delapan lewat nih, yuk kita jalan” ucap kak Shanty. “bye, bye pulau untung jawa” gumamku dalam hati. Hari ini aku senang sekali karena akan kemping selama dua malam.

Sesampainya di pelabuhan P. Untung Jawa kami mengumpulkan ID card kami semua untuk beli tiket kapal. Sebenarnya kapalnya akan datang pukul 10:00, jadi sambil menunggu kami mengobrol-ngobrol, bernyanyi-nyanyi dan bercanda bersama.

 

nungguin kapal km. sabuk nusantara 66 foto kami menunggu kapal datang, 📱Kak Shanty.

“Waiting for you, Anpanman2x” kami bernyanyi lagu Kpop : BTS Anpanman.

“Oh wait till’ I do what I do, hit you with that Ddu-du ddu-du-du-du” kami juga bernyanyi lagu kpop : Blackpink Ddu-du Ddu-du. Dan beberapa lagu lagi, kami juga mengobrol tentang film apa yang suka kami tonton.

“Ayo siap-siap kapalnya udah datang” kata kak Shanty. Kami segera memakai tas dan berjalan kea rah kapal.

 

mau naik kapal km.sabuk nusantara66 jalan menuju kapal, 📱kak Shanty.

Kali ini kami juga menaiki kapal KM. Sabuk Nusantara 66. Ketika naik kapal kami baris sesuai kelompok, yang duluan naik adalah Dublob, setelah itu kelompok yang lain. Kami menyerbu tempat di bawah lagi dan dipojok.

Kali ini aku dan beberapa orang lainnya merasa pusing karena kapal sangat bergoyang. Dari pada tambah pusing akhirnya berapa orang dari kami bermain kartu, beberapa orang lagi bermain dare or truth mengobrol dan tidur.

“Ting nung, ting nung, ting nung, sesaat lagi kapal KM. Sabuk Nusantara 66 akan sampai di pelabuhan pulau Karya” suara pemberitahuan dari kapal berbunyi. Aku yang tertidur langsung bangun, yang lain juga begitu.

Ketika turun dari pelabuhan kami semua langsung jalan menuju Masjid untuk ISHOMA. Kebetulan di dekat pelabuhan ada masjid, beberapa tempat makan dan toko sembako. Setelah sholat kami berkumpul di halaman masjid.

“adik-adik kalau mau makan nanti di sebelah sana ya, terus di sebelah sana ada toko sembako” ucap kak Shanty sambil menunjuk tempat tersebut.

“Oh ya, kita juga ada tambahan kakak mentor, yaitu kak Melly” ucap kak Shanty sambil memperkenalkan kak Melly.

“Yaudah yuk kita makan di sana” ajak Ratri. Kami berjalan menuju tempat di pinggir laut dekat dengan pelabuhan. Di sini aku dan Andini memesan Nasi, kentang balado dan mie goreng, Ratri memesan pecel ayam, aku lupa Ceca dan Trisha memesan apa ya? :D.

“Ratri, aku sama Ceca kan udah selesai makan. kita beli telur dulu ya” aku izin ke Ratri.

“oke” jawab Ratri.

“Anjaaaa, aku nitip juga dong” ucap Kaysan.

“Mau nggak yaah” jawabku.

“Mau laah , ini uangnya” bujuk Kaysan sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Yaudah dehh” jawabku. Kaysan juga memberikanku uang senilai Rp. 40.000,-. Aku dan Cecapun jalan menuju toko sembako. Tetapi di jalan….

“Anja sama Ceca mau kemana?” tanya kak Shanty.

“Mau beli telur kak” jawab aku.

“Telur di pulau ini lagi habis, belinya di pulau panggang aja nanti” kak Shanty memberitahu kami berdua. Aku dan Ceca kembali lagi ke tempat makan, mengembalikan uang yang tadi di kasih Kaysan.

Semua sudah selesai makan, aku dan Ratri pergi sebentar untuk membeli bakso. Kami berkeliling pulau tetapi tidak menemukan toko sembako yang berjualan bakso, akhirnya kami kembali ke tempat makan untuk membeli bakso mentah di tukang bakso. Setelah mendapatkan bakso kami kembali ke halaman masjid.

“adik-adik ada perwakilan dari kelompok dua orang buat ambil pelampung ya” panggil kak Shanty. Kali ini yang pergi Ratri dan Andini.

“sekarang kita jalan ke pelabuhan, naik kapal sampai pulau Karya” kata Kak Shanty. Kami membawa tas kami dan jalan menuju pelabuhan pulau Pramuka.

“mau kemana bu?, ayo saya antar” tanya bapak-bapak yang sedang di pelabuhan.

“mau ke pulau Karya pak” jawab kak Shanty. Bapak tersebut segera menyiapkan kapalnya, ojek kapal yang kali ini kita naiki memiliki kapal yang lebih besar. Sehingga bisa menampung kami semua dan beberapa orang pulau.

dikapal mau ke p.karya di ojek kapal menuju P. Karya, 📱Kak Shanty.

Dari pulau Pramuka menuju pulau Karya hanya memerlukan waktu beberapa menit, bahkan pulau Karya terlihat dari P. Pramuka. Tak lama kapal yang kami naiki sudah berhenti di dermaga kecil pulau Karya. Kami semua turun duluan dan menurunkan barang bersama-sama.

Kami bertemu bapak yang mengizinkan kami untuk kemping disini, beliau juga menunjukan dimana kami akan kemping. Ternyata kami akan kemping di lapangan volley yang lumayan luas, berpasir, sejuk karena angin terus berhembus, teduh karena di kelilingi banyak pohon.

“kita disini aja ya Rat” ucapku kepada Ratri sambil menunjukan tempat dimana kami akan gelar tenda. Ratri langsung membuka tenda dan membagikan tugas, siapa harus pegang bagian ujung dan lainnya. Yeeeaayy, dalam waktu tiga puluh menit tenda kami sudah jadi.

“Guys tas, gue, Ceca dan Trisha kayaknya nggak cukup masuk tenda” ucap Ratri.

“yaahh, iya juga sih, kan tas kalian besar-besar” ucapku.

“eh tas kalian sebagian taro di tenda barang kita aja” ucap Fattah.

“woah, makasih Fattah” ucap kami. Kelompok Fattah yaitu Anjing laut, membawa dua tenda, satu tenda tidur dan satu lagi tenda barang. Karena tasku dan Andini lumayan kecil, ditaruh di tenda kami sedangkan tas Ratri, Ceca dan Trisha di tenda barang kelompok Anjing Laut.

“ehh, kita masak makan malam yuk” ajakku. Karena sekarang sudah pukul empat sore, aku memanggil Ceca untuk membantu memasak. Ceca pun mengambil peralatan memasak, sedangkan aku mengambil bahan masakan. Kami akan memasak Nasi liwet.

Kami mulai mencuci beras, memberikan air, memasukan bumbu masakan dan tutup. Kami memasak ini dengan api kecil agar bawah nasi tidak gosong. Setiap 10-15 menit Ceca selalu mengaduk nasi. Tak terasa sudah empat puluh lima menit kami memasak tetapi beras tak matang-matang.

“Ce, ini berasnya kenapa yaa masih keras?” tanyaku kepada Ceca.

“nggak tau nih padahal udah aku tambahin air tadi” jawab Ceca. Kami menunggu beberapa menit lagi dan berasnya tak matang juga. Karena di tambahkan air nasinya menjadi lembek tetapi keras, jadi bingung lembek kaya bubur tapi keras?.

Perasaanku waktu itu sangat sedih dan merasa bersalah, karena kami akan makan malam dengan nasi yang tidak enak itu. “Guys, maafin aku yahh. Nasinya nggak enak” aku meminta maaf kepada kelompok Dublob.

“nggak apa kok njaa, jangan sedih yaa” ucap Trisha, Andini dan Ratri. Ketika aku merapihkan kompor dan mengecek gas yang kami punya hanya tinggal setengah botol.

“Ratri, gasnya udah tinggal setengah. Kamu bawa dua gaskan?” tanyaku kepada Ratri.

“Yahh, gimana dong, aku Cuma bawa satu lagi” jawab Ratri. Aku kaget ketika mendengar kabar itu. “sungguh sore hari yang menyebalkan, nasi nggak enak, gas tinggal setengah” gumamku yang sudah lemas. Pada saat itu rasanya aku ingin nangis saja!, apalagi melihat Ratri yang juga merasa bersalah karena hanya membawa satu gas.

“Ihhh kamu ini gimana sih Rat, masa bawa gas cuma satu” ucap Ratri yang kesal sendiri.

“udah Rat nggak apa nikmati aja kemping ini” ucapku sambil tersenyum kepada Ratri, kamipun berpelukan, dan sedih bersama.

“Ada yang mau ikutan main benteng nggak?” ucap beberapa anak laki-laki yang akan main benteng. Aku langsung berlari ke arah mereka dan mengucapkan kata “aku ikutan”. “Dari pada sedih terus mending main benteng” gumamku. Pada saat itu Tata, Michel dan Katya juga ikutan main. Sore hari ini menjadi hari yang menyedihkan dan menyenangkan menurutku.

“Hey, udahan main bentengnya. Udah magrib” panggil Kak Ali. Kami menghentikan permainan.

Malam pun tiba, tempat kami kemping jadi sangat gelap ditambah lagi tidak ada listrik, yang berarti tidak ada lampu. Tetapi dengan keadaan seperti ini, malam kami menjadi sangat menakjubkan. Langit terang, bintang-bintang terlihat sangat jelas.

“Rarti, kita gelar flysheet kamu aja di depan tenda” usulku. Ratri mengambil flysheetnya sedangkan aku membantu menggelar.

“Waah, langitnya keren banget” ucapku sambil tiduran di atas flysheet dan melihat langit.

“adik-adik kita kumpul di depan tenda Dublob ya” ucap kak Shanty. Kami makan malam bersama disini. Menu makan malam paling enak kali ini adalah makanannya kelompok Anjing Laut dan Putri Doyong. Mereka memasak nasi dengan tekstur yang pas, kelompok Putri Doyong memasak sop jagung sedangkan kelompok Anjing laut membawa Rendang buatan Fattah.

makan malam1 di p.karya suasana makan malam,  📱Kak Shanty\Kak Ali.

 

“Adik-adik sehabis makan kita fefleksi ya” pemberitahuan dari kak Shanty. Pada saat refleksi kami diberikan tugas logbook dan dikumpulkan besok pagi. Setelah refleksi kami bermain werewolf sebentar.

“Trisha, temenin aku ke toilet dong” pintaku setelah bermain werewolf. Akhirnya aku, Trisha dan Ceca pergi ke Toilet bersama, banyak toilet di sekitar tempat kemping tetapi tidak bisa di gunakan. Jadi kami harus ke toilet yang jaraknya 100m dari tempat kemping, apalagi bisa saja sewaktu-waktu biawak lewat.

 

Wah Apa Itu?

“Jaa, Anjaa bangun udah jam lima lewat” Ratri membangunkanku, aku berusaha untuk membuka mata.

“Ohh iyaa pagi ini kan mau ke Pulau Rambut” gumamku. Langsung bangun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka, ganti baju dan sikat gigi.

“adik-adik sarapannya sudah siap pukul lima tigapuluh yaa. Jangan lupa pakai sepatu bootsnya” kak lala memberi tahu kami.

“ayo, ayoo udah jam  setengah enam nihhh. kita harus sarapan dulu” ucapku memberitahu mereka yang masih beres-beres.

“Andini beres-beres pakaiannnya nanti aja, pulangnya”ucap Ratri. Sebenarnya di kelompok kami yang paling rapih adalah Andini. Jadi kalau habis menggunakan sesuatu harus langsung di bereskan.

“kalian makan dulu, yang lain aja udah mau selesai” panggil Tata, yang baru datang sehabis makan. Kami semua segera mengunci pintu dan jalan menuju tempat makan.

“Ahahahahahahh, botol Fakhri menciut” tawa kami semua, saat melihat botol Fakhri yang meleleh akibat teh yang terlalu panas. Oh iyaaa, sarapan pagi ini adalah nasi goreng, telur dadar dan kerupuk udang.

“yang udah selesai makan kumpul di depan Mess yaa”ucap kak Shanty. Kelompok Putri Doyong dan Garam laut sudah selesai makan, jadi mereka pergi ke sana duluan. sedangkan kelompok yang tersisa masih makan.

“Hari ini kelompok Putri Doyong sama Garam Laut duluan yaa” ucap kak Shanty. Karena kelompok kami tidak duluan, kami makan dengan santai dan mengecek barang apa yang ketinggalan.

“brrreeeeppp, breeeppp” terdengar suara kapal. Kami berlari kearah dermaga, ketika dilihat itu memang kapal tetapi….. bukan kapal yang akan kita naiki. Kami memutuskan untuk menunggu kapal disini.

pagi2 mau ke pulau rambut pagi-pagi sudah menunggu kapal di pelabuhan 📱kak Shanty.

“Tuhhh kapalnya dateng” ucap Fattah sambil menunjuk kearah laut.

“mana? kita nggak liat tuuh” ucap kami serentak kebingungan.

“ohhh ituuuu kapalnya keliatan tapi kecil banget” ucap beberapa orang dari kami.

“Tuh kan Fattah tuh nggak pernah bohong” kata Fattah dengan pede. Sementara kapal mulai mendekat kearah kami. Fattah selalu masuk ke kapal duluan, untuk membantu kami naik. Satu persatu orang mulai naik ke kapal dengan bantuan Fattah.

“Wuuhhh, ombaknya kencang” gumamku sambil melihat ombak. Memangsih ombak pagi ini lebih besar dari kemarin sore, airnya saja sampai nyiprat ke kapal.

“sekarang turunnya di sini aja yaa” kata bapak tersebut sambil memberhentikan kapal di jalan setapak. Kami kebingungan karena kelihatannya tidak ada jalan padahal ada jalan yang bisa dilewati di belakang pohon.

“Eh, Pal ngapain disini?” kata kak Ali yang melihat kak Opal. Ternyata kak Opal kehilangan botol minumnya. Akhirnya kak Opal lah yang menunjukan jalannya, aku tidak tahu ini hutan apa karena tanamannya campuran. Untuk melewati tanaman-tanaman ini harus menunduk terlebih dahulu. Akhirnya kami berhasil melewati tanama-tanaman tersebut dan bertemu teman-taman yang lain.

“adik-adik nanti hanya bawa minum saja yaa, buku jurnalnya ditinggal disini” ucap kak Lala dan Kak Shanty. Kamipun menaruh buku jurnal kami dan membawa minum di satu tas. Karena tas Ratri lumayan besar, pada akhirnya semua minum regu Dublob di titip ketas Ratri.

“Adik-adik kita foto dulu yuk, buat cover buku” ucap kak Shanty. Kami semua berkumpul di Dermaga, untuk foto bersama. Kakak-kakak mentor mulai mengatur kami, mulai dari berdiri dimana, hadap kemana dan berpose apa.

“ Karena petugasnya belum datang, adik-adik boleh liat-liat sekitar sini” kata kak Shanty. Mendengar kata itu Tata mengajakku untuk bermain air, kamipun segera melepas sepatu boots dan bermain air. Tetapiiiii sepatu boots yang kupakai sulit untuk di buka, untung saja Tata mau membantuku.

busa sepatu boots Tata membantu membuka sepatu boots. 📱Google Pixel.

“Ehh gua mau nyoba loncat dari dermaga ahh” kata salah satu anak laki-laki. Mendengar kata itu beberapa dari kami melihat kearah dermaga, disana sudah ada Ali, Alev, Fakhri, Syauqi dan Hibban yang sudah siap loncat. Kami semua terus melihati mereka berempat daaaannnn……..

“uwaaahhhh” teriak beberapa orang dari kami sambil bertepuk tangan. Melihat mereka loncat dari dermaga. Tetapi Hibban belum juga turun, “ayooo Hibban” sorak kami. Akhirnya Hibban memberanikan diri untuk loncat.

“Adik-adik udahan yuk main airnyaaa, ini bapak petugasnya sudah datang” panggil kak Shanty. Kami segera berkumpul di pinggir pantai. Kali ini kami tidak di bagi menjadi beberapa kelompok, kami juga dipandu oleh tiga orang petugas yaitu pak Jaya, pak Choki dan pak Acung. Tetapi kak Lala tidak ikut keliling dengan kami.

“Yaudah yuk kita mulai jalan” ajak pak Jaya. Baru saja jalan beberapa langkah kami sudah menemukan banyak sampah yang tercampur oleh pasir. Sungguh pemandangan yang menyebalkan.

“liat tuuh ada elang di pucuk pohon itu” ucap kak Shanty sambil menunjuk kearah pohon tersebut. “woaahhh elang” gumamku, karena ini pertama kalinya aku melihat elang yang terbang di alam bebas.

“Hiii, ada biawak” ucap kak Shanty kaget, ketika melihat biawak di semak-semak merangkak dengan santai. Aku pun ikut terkejut melihat kak Shanty melangkah mundur menjauhi biawak.

“Nahh, kita udah mulai melewati air selutut” ucap pak Coki. kami berusaha agar air tidak masuk kedalam sepatu boots, tetapi tetap saja airnya masuk.

“naahh disini kita bisa menemukan kerang, nanti keliatan kerangnya punya mata” pak Jaya memberitahu kami. Aku berusaha mencari kerang tersebut, tetapi tidak berhasil.

“Tunggu ta, aku ngeluarin air yang di sepatu boots dulu” ucapku kepada Tata. Sebenarnya aku sangat tidak betah memakai sapatu boots karena lembab tapi mau gimana lagi dari pada kakiku terluka.

“ihhh itu apaan Andini?” tanyaku kepada Andini. Yang sedang memegang sesuatu di dalam air, bentuknya bulat, memiliki tentakel, warnanya terang.

“oh ini Anemon Laut” jawab Andini. Oh iyaa, anemone laut ini seperti putri malu, jikalau di pegang tengahnya dia akan menutup.

Kami jalan beberapa langkah lagi, ehh Fakhri pegang hewan laut berwarna hitam lonjong, seperti lintah tapi besar. “ihhhhh, itu apaan lagi?” tanyaku kepada Fakhri.

timun laut Fakhri mengambil timun laut, 📱Google Pixel.

“Ini timun laut, mau pegang nggak?” jawab Fakhri.

“boleh dehh aku mau nyoba pegang, ehh nyetuh aja” aku memberanikan diri untuk menyentuh hewan laut ini. Walaupun aku merasa geli karena teksturnya lembek seperti slime, kulitnya licin seperti cacing. Aku heran mengapa mereka berani sekali mengambil hewan seperti itu.

Tak lama mereka berkumpul lagi, “Kali ini liat apa lagi cobaa” gumamku.

Ketika aku melihat, tumbuhan warna hijau, kecil-kecil, mirip anggur. Ahhh aku tahu ini pasti anggur laut, ternyata tebakanku benar. Sebelumnya aku pernah melihat tumbuhan ini di televisi, aku juga penasaran bagaimana rasanya. Sekarang aku bisa mencobanya, rasanya asin karena terkena air laut, teksturnya seperti makan sayur hijau, ada sedikir rasa manis dan amis.

anggur laut ini foto anggur laut, 📱Google Pixel

“Liat dehh ini ada burung Pecuk Padi Hitam jatuh” panggil kak Shanty. Karena penasaran aku dan Tata menghampiri kak Shanty, “kasihan sekali burung ini” gumamku. Burung ini terlihat sangat lemah, terdiam di atas kayu, di kayu ini juga terdapat sampah, pokoknya kasihan deh.

pecuk padi hitam Pecuk Padi Hitam, 📱Google Pixel

“Mungkin burung ini akan jadi makanannya biawak” kata kak Shanty. Mendengar kata itu  aku langsung merasa kasihan, yaah mau gimana lagi namanya juga rantai makanan.

Kami baru saja mengelilingi setengah pulau, tetapi sudah banyak sekali hal-hal baru yang kutemui. Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa kota Jakarta masih mempunyai alam seindah ini.

Tak lama mereka sudah mengumpul lagi, sekarang mereka berkumpul karena sedang menangkap ikan kerapu dan ikan gabus. Aku yang ketinggalan jauh langsung berlari dan ikutan menangkap ikan. Karena di kerjakan bersama tak terasa kami sudah mengumpulkan satu kantong ikan. Kami sudah banyak menangkap ikan, sekarang ayo jalan lagi.

“waahhh ini mah pantai sampah!” gumamku, ketika melihat sampah di sepanjang tepi pantai. Hampir saja pasir di pantai tidak terlihat, karena tertutup oleh sampah plastik! Terutama botol plastik dan Styrofoam!. Pokoknya pasir dan sampah sudah menyatu.

Menurutku pemandangan ini sangat kacau, pulau yang tak berpenghuni menyimpan banyak sampah. Belum lagi beberapa sampah yang mengapung di laut. Aku juga melihat dua orang pemulung yang sedang, mengambil botol plastik dan lainnya.

“Blup, blup, blup” terdengar suara air yang menggenang di sepatu bootsku. Langkahku terhenti untuk membersihkan sepatu boots. Sebenarnya perjalanannya masih lumayan jauh, tetapi aku sudah tidak tahan dengan banyak air yang merendam kakiku.

“duhh susah banget sihh pakai sepatu bootsnyaa” gumamku. Menurutku memakai dan melepas sepatu boots ini adalah perjuangan. Karena susah sekali mencopot dan memasangnya. Ternyata aku sudah tertinggal rombongan, tetapi belum jauh.

“Andiniiiii, kamu ngapain ngorek-ngorek pasir?” tanyaku ketika melihat Andini.

“Ini aku lagi nyari kerang buat dimakan, kalau kamu mau bantuin boleh ” jawab Andini. Tanpa berpikir Panjang aku langsung membantu Andini. Andini juga menyarankan untuk mencari kerang di bibir pantai dekat dengan air. Ternyata mencari kerang tidak begitu susah.

“ahh, ketemuu. Kalua udah ketemu diapain?” tanyaku.

“ohh, sini kasih aku. Biar di bersihin dari pasir” jawab Fakhri. Aku memberikan kerang yang aku temui kepada Fakhri. Kali ini Fakhri mengorbankan tasnya untuk menaruh kerang. Sudah terkumpul sekitar setengah tas. Sepertinya cukup, jadi ayo sekarang kita jalan lagi.

“nahh sebentar lagi kita sampai nihh di tempat awal” kata kak Shanty yang berjalan di sebelahku. Kami berjalan sekitar 15 menit dan sampai di tempat awal, dimana kak Lala menunggu kami semua.

Aku segera duduk di batu yang terdapat di pinggir pantai untuk membersihkan kaki. Aku juga tidak lupa untuk menjemur sepatu bootsku dan kaos kaki yang basah, di atas bebatuan. Sambil istirahat aku memperbaiki rompi yang aku pakai karena resletingnya hampir copot.

“Adik-adik bantuin kak Ali bikin api buat masak ikan yuk” panggil kak Shanty. Sebenarnya aku tidak membantu heheheheheh :D, karena terlalu sibuk dengan rompi yang sedang ku perbaiki ini. Sebagai gantinya aku membantu mendekatkan api ke ikan.

bakar ikan aku membantu kak ali membakar ikan, 📱kak Shanty.

“Kak Ali, ini ikannya di kasih bumbu apa?” tanya ku kepada kak Ali.

“nggak pake apa-apa, bumbu original ajaaa” jawab kak Ali. Aku kaget mendengar kata itu, karena biasanya kalau nenekku masak ikan pasti pakai bumbu. Okelah, kita lihat saja nanti!.

“Adik-adik ayo bantu bawa makanan dari kapal” panggil kak Shanty. Aku meninggalkan pekerjaanku karena kepanasan dan aku lebih memilih membawa makanan :P. Aku bantu membawa nasi, kami menaruh semua makanan di rumah kayu.

“adik-adik ini ikannya juga sudah matang” panggil kak Lala. Semua langsung menyerbu ikan tersebut, termasuk aku. Aku agak ragu untuk memasukan ikan ini ke dalam mulut. Ketika aku mencoba ikan tersebut. Aku terkejut karena rasanyaaa sangat enak, tidak amis sama sekali.

Makanan siang kali ini sangat nikmat karena makan dengan ayam, ikan, cumi, sayur capcay dan nasi. Ditambah lagi angin yang bertiup membuat tempat ini sejuk. Pokoknya makan siang hari ini sangat nikmat.

“Adik-adik, gimana nihh mau bersih-bersih pantai tidak? ” tanya kak Shanty.

“Hmmmmm gimana ya” jawab kami.

“Kalau Andini gimana, mau bersihin pantai nggak?” tanya kak Shanty.

“Kalau aku sih mau tapi sedikit aja” jawab Andini. Akhirnya kami semua membersihkan pantai. Kak Shanty memberi waktu selama satu jam. Aku kebagian membawa karung yang akan di isi sampah kaca, seperti botol kaca, lampu bohlam dan lain-lain.

bersih2 pantai foto bersih bersih pantai, 📱Kak Shanty.

foto sama sampah Selesai membersihkan pantai kami berfoto bersama sampah yang kami ambil. 📱Kak Shanty.

“Anjaaaa, kita main air lagii yuk, kan udah waktu bebas” ajak Tata. Disana juga sudah ada Andini, Alev, Ali, syauqi dan Fakhri yang sedang bermain air. Aku dan Tata berlari kearah pantai dengan perasaan senang.

“Bbbbbbbbyyyyyyyuuuuuuurrrrrrr” kami bermain air dan berenang-renang.

“Anja, Tata ayooo loncat kayak kitaa yukk” ajak Alev dan Fakhri.

“nanti kakinya sakit nggak kena karang?” tanyaku.

“nggak kok, ayooo coba ajaaa, pasti ketagihan” jawab Fakhri dan Alev. Karena merasa tertantang aku dan Tata ikut mereka ke dermaga. Ketika sampai di dermaga dan melihat ke bawah, aku jadi gemetar.

“Kalian loncat duluan aja, aku takut” ucapku. Anak laki-laki melompat duluan, Tata juga ikut melompat.

“Ayoo Anjaaa, lompat, seru lohhh” panggil Tata, yang baru saja melompat. Aku menarik nafas panjang, ketika ingin lompat langkahku terhenti karena ragu.

“Ayolah Anjaaa nggak usah ragu” ucap Alev. Aku menarik nafas lagi, menutup mata dan…….. “Byuuurrrr” aku berhasil lompat dari dermaga itu. “ternyata seru banget loncat dari dermaga” gumamku. Kami langsung menepi untuk naik ke Dermaga dan loncat lagi.

“Adik-adik sebentar lagi kapalnya datang yaa” kata kak Shanty. Kami yang bermain air merasa sedih karena sudah mau pulang saja.

“Oh yaaa yang pulang duluan yang tidak basah yaa” kata Kak Shanty. Kami merasa senang karena bisa bermain air lebih lama lagi. Kami loncat berkali-kali, sampai-sampai kak Ali membuatkan video slow motion.

“Breep, breeep” Sudah terdengar suara kapal. Kapal juga sudah terlihat, kami yang berada di atas dermaga loncat untuk terakhir kalinya. Setelah itu kami mengambil life jacket dan barang-barang lainnya.

“Hachu, hachu” aku bersin karena kedinginan. Ketika naik kapal dengan keadaan basah dan angin yang kencang membuatku menggigil kedinginan. Sampai di P. Untung Jawa langsung turun dari kapal, mengambil baju ganti, dan mandi.

Setelah mandi adalah kegiatan bebas, disarankan dipakai untuk mencari orang yang mau di wawancara. Sehabis mandi aku sempat tidur selama 30-40 menit,  dibangunkan oleh Tata karena mau mewawancara orang. Kami pergi bersama Ceca dan Andini.

“Hmmmmm, mau cari siapa yaa buat di wawancara?” gumamku. Kami jalan berkeliling-keliling pulau ini. Akhirnya sudah kuputuskan, aku akan mewawancara ibu-ibu yang sedang duduk santai di depan rumahnya.

“Permisi bu, maaf sore-sore ganggu. Aku ada tugas kenalan sama warga di pulau ini, aku tanya-tanya ibu nggak apakan?” aku memulai pembicaraan dengan minta izin. Ibu tersebut mau aku wawancara, dan ini lah hasilnya :

Nama        : Siti

Lahir          : Pulau Untung Jawa

Pekerjaan : ibu rumah tangga

Punya dua anak, ayahnya beliau asli orang pulau Untung Jawa sedangkan ibunya asli orang Tanggerang.

Aku sudah dapat satu orang, berarti tinggal satu lagi. Kami jalan keliling pulau lagi, sempat berhenti di Koprasi. Tiba-tibaaaaaa

“Kak yang kemarin dating ke PKBM kan?” tanya banyak anak-anak yang berkumpul mengelilingi Andini. Aku yang melihatnya kaget, “Hah, kok jadi banyak anak-anak. Dari mana cobaa?” gumamku. Ia juga bertanya kepada kami semua.

“Kak kenal nggak sama anak laki-laki, ganteng, pakai tas biru dan rambutnya berponi” kata salah satu anak memakai kerudung hitam, sambil mempraktekan gayanya. Dengan ciri-ciri itu kami curiga bahwa anak laki-laki yang dimaksud adalah Fakhri.

“Emangnya ada apa dek?” tanya kami.

“Ini kak Teman-temanku suka sama cowok itu, oh iyaa kita boleh nggak ikut ke tempat menginap kakak” kata mereka.

“katanya kakak-kakak orang kaya?” tanya mereka

“HEheheeeh, emangnya kata siapaaa?” tanya Tata.

“Tapi maaf ya dek, kami masih ada tugas, jadi mainnya lain kali aja yaa” jawab kami semua. Anak-anak itupun pergi, meninggalkan kami. Kami juga jalan kearah Mess BKSDA, di jalan kami bertemu dengan Ratri dan anak perempuan yang lainnya. Mereka juga bersama dengan anak-anak pulau. Andini memutuskan untuk ikut dengan Ratri.

Jadi kami hanya bertiga dehh, sempat mampir ke pelabuhan untuk mencari orang. Karena terlihat banyak sekali orang yang terdapat di pelabuhan. Aku memilih untuk mewawancarai kakak-kakak yang sedang terdiam.

“Permisi kak, boleh tanya-tanya sebentar nggak” tanyaku, meminta izin.

“Tanya-tanya tentang apa dek?, kalau pertanyaannya nggak susah boleh deh” jawab kakak tersebut. Ini lah hasil aku mewawancarainya.

Nama              : Gazela

Jenis kelamin : perempuan

Umur               : 23 tahun

Bukan asli sini, sebenarnya asli tanggerang. Kesini hanya untuk liburan dan main ke rumah nenek. Biasanya sih kesini hanya pada saat Idul Fitri.

Aku, Tata, dan Ceca sudah mendapatkan orang yang harus di wawancara. Sekarang saatnya pulang, sesampainya di Mess kami mengobrol-ngobrol.

“Kenalin ini anak-anak pulau” ucap michelle, yang baru saja jalan-jalan keliling pulau bersama andinda dan dua orang anak perempuan.

“Mereka mau ketemu Fakhri” bisik michelle kepada aku, Tata dan lainnya. Aku langsung mengingat kejadian tadi. Dimana kami di tanya-tanya oleh anak pulau. Fattah dan Michelle membangunkan Fakhri.

Sementara anak pulau tadi kabur karena malu, bertemu dengan Fakhri. Michelle dan Adinda mengejar mereka, akhirnya mereka hanya melihat Fakhri dari jauh. Mereka tidak berani untuk berkenalan.

anak pulau1 anak pulau berkunjung, 📱kak Shanty.

Tak lama Ratri, Katya dan Andini dating dengan tiga orang perempuan. “Halo” sapaku kepada mereka.

“Oh iya, anja ini anak pulau tapi Kpopers ” ucap Ratri. “Hah” gumamku, aku tak menyangka ternyata anak pulau ada yang Kpopers. Mereka kesini hanya untuk bermain, bukan bertemu Fakhri.

anak pulau2 berfoto dengan anak pulau, 📱kak Shanty.

Sedari tadi Fakhri hanya keluar masuk kamar, jadi mereka yang ingin bertemu Fakhri menunggu sampai malam. Pada saat itu sudah waktunya makan malam, kami juga mengajak anak pulau untuk makan bersama. Walaupun mereka tidak mau, tetapi tetap saja kami ajak makan.

“Ayo, kalian makan bareng kita aja” ajak Fakhri. Ketika Fakhri yang mengajak mereka langsung mau makan. “Duh, ada-ada saja” gumamku.

“Besok malam kalian mau di telp orangtua nggak?” tanya Kak Lala. Ada yang menjawab tidak dan ada juga yang menjawab mau.

“Sesuai regu aja yaa, kalau mau bilang ke kak Lala” ucap kak lala. Regu Dublob segera berdiskusi dan memutuskan untuk di telp orangtua.

“Ratriii, tungguin dong” teriakku dari jauh, sambil mengejar Ratri yang akan ke Mess. Selesai makan kami semua langsung ke Mess untuk Packing. Tak terasa besok kami sudah harus pindah ke Pulau Karya untuk Kemping. Jadi besok kami akan naik Kapal KM. Sabuk Nusantara 66 ke P. Pramuka lanjut naik ojek kapal ke P. Karya.

Ketika kami baru sampai Mess bersama yang lainnya tiba-tiba “Mana murid-murid saya yang tadi main ke sini!!” ucap bapak-bapak yang tiba-tiba datang naik motor dan marah-marah. Kami semua terkejut dengan kedatangan bapak ini.

“sudah pulang pak” jawab kami semua.

“Gimana sih, kok murid saya nggak di suruh pulang. Mana panitia acara ini?!” protes bapak itu. Fattah langsung lari untuk memanggil kakak-kakak mentor. Pada saat itu juga bapak itu langsung pergi, tanpa bertemu dengan kakak-kakak mentor.

“mana orang yang mau ketemu sama kakak” ucap kak Shanty dan Kak Lala saat sampai di Mess. Kami semua menjawab dan menjelaskan kejadian tadi.

Kami semua langsung masuk kamar masing-masing. Sikat, gigi, cuci muka dan sedikit beres-beres setelah itu tidur. “Huh hari ini sungguh menyenangkan, menegangkan, membingungkan dan menyebalkan” gumamku sebelum tidur.

Awal Perjalanan

Hari ini aku bangun sangat pagi yaitu pukul 03:00, karena aku akan berangkat ekspedisi yang ketiga, yaitu setelah ekspedisi ke Pulau Harapan tahun 2017. Kali ini kembali  ke kepulauan seribu menggunakan kapal KM Sabuk Nusantara 66 lagi, “asikkk” kapal kesukaanku, lebih tepatnya satu-satunya kapal yang seperti itu yang aku tahu.. hehehe..

Pukul 03:45, aku, Popop dan Momom, yaitu panggilan orang tuaku, panggilannya masih sama, aku pernah sebut sebelumnya waktu di buku pertama aku “Makanan Olahan Pulau Harapan Ala mak Cuá”..hehe numpang iklan ya, siapa tau ada yang mau baca. Sampai mana tadi? Oh iya, cerita berangkat menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, kami jalan menggunakan mobil pribadi. Di perjalanan kami sempat berhenti beberapa kali untuk isi bensin, beli sarapan dan obat pribadi. Nah, obat pribadi ini penting, takutnya kambuh disana, penyakitku itu ya alergi macem-macem deh, terutama sama debu dan udara dingin, bisa-bisa gatel-gatel dan bersin-bersin reaksinya, jadilah beli vitamin dan obat biar aman dan tidak merepotkan.

“Wah, ternyata udah sampai” ucapku kepada popop. Di depan mobil kami sudah terdapat kapal yang bertulisan KM Sabuk Nusantara 66 berwarna hitam, bagian belakang kapal berwarna putih, bagian depan berwarna kuning dan bergaris hijau, masih sama persis bentuk kapalnya dari yang terakhir aku naik.

“janjian sama teman-teman jam 05:30 kan?” tanya popop kepadaku.

“kan ketemuannya jam 06:30 pop” jawabku. Ternyata popop sedari tadi mengira bahwa harus sampai pelabuhan Sunda Kelapa pukul setengan enam, jadilah berangkat pukul tiga pagi. Pantas saja, kok berangkat ekspedisi kali ini lebih pagi, jadinya kami sampai pukul 05:00, “ampun dehh, mungkin kita manusia pertama yang sampai disini, ehh ternyata sudah ada tukang parkir” ucapku dalam hati. Akhirnya sambil menunggu yang lain kami tidur lagi saja.

Pada pukul 06:00 mulai datang Syauqi, kak Lala, Tata dan Ratri. Aku membangunkan popop dan momom, setelah itu keluar dari mobil untuk menyapa mereka semua. Barang-barang kami ditaruh di dalam mobil. Ketika ada mobil yang berdatangan kami menebaknya mobil siapakah itu?.

Tak lama kemudian kira-kira pukul 06:45 datang Mikrolet M15 berwarna biru, kami semua menebak bahwa itu adalah anak-anak oase yang menaiki kendaraan umum. Ternyata benar itu adalah anak-anak oase, aku dan lainnya langsung mengambil tas yang ada di dalam mobil mereka masing-masing.

“Zanjabilla, faustinaratri” satu persatu nama kami dipanggil oleh petugas kapal. Nama yang sudah dipanggil di perbolehkan masuk kedalam kapal. Tetapi tidak boleh keluar lagi, ketika masuk terdapat pendingin ruangan, ada TV, kursi yang sangat nyaman, kantin kecil berbentuk mini resto, di lantai bawah terdapat ranjang bertingkat (Bunk Beds) yang tersusun rapih. Kami semua menuju lantai bawah dan menyerbu pojok ruangan agar bisa tidur-tiduran.

“lima belas…, enam belas…., lohh kok hanya 16 orang siapa yaa yang belum datang?” pikirku. Oh iyaa, seketika teringat bahwa Hibban dari kelompok Anjing Laut yang belum datang. Kami menunggu hibban di dek kapal. Ketika kak Shanty menghubungi orangtuanya, mobil Hibban datang.

“Dadah Popop, dadah Momom Anja pergi dulu yaaaa” ucapku kepada popop dan momom dengan perasaan sedih karena harus berpisah selama 5 hari dan senang karena bisa bebas.

“Ehhh, ini kapalnya sudah jalan yaa” tanyaku, karena kapal terasa bergoyang. Kak Shanty, Kak Lala dan Kak Opal datang menghampiri kami semua untuk briefing. Mereka juga memperkenalkan satu orang kakak yang akan menemani kami, yaitu kak Ali.

“Anja kita ke dek kapal yuk” ajak Tata. Kami berjalan kearah dek kapal, beberapa orang dari kami yang mengikuti eksplorasi Pulau Harapan 2017 mengingat masa-masa eksplorasi 2017.

“ayo, Ta kita kerjain tugas wawancara dulu” aku mengajak Tata. Aku dan Tata pergi ke bawah untuk mengambil peralatan menulis. Ketika sedang mengambil peralataan menulis, aku berniat untuk mewawancarai orang yang sedang duduk di depan kami.

“dek dari rombongan mana dan mau kemana?” kata salah satu penumpang yang duduk di depan kami. Ehhh, udah ditanya duluan.

“kami dari klub oase mau ke pulau untung jawa” jawab aku dan Tata.

“Oh iya kak, aku boleh wawancara kakak nggak?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Ternyata ia menerima permintaanku, inilah hasil aku mewawancarainya :

Nama              : Sani

Jenis kelamin : Laki-Laki

Asal                  : Jakarta Selatan

Pekerjaan       :  wiraswasta

Akan turun di Pulau Harapan, di kepulauan seribu hanya jalan-jalan, besok udah pulang ke Jakarta lagi. Pergi bersama empat orang teman, ikut sebagai gait.

“Adekan udah tanya-tanya kakak, sekarang kakak yang tanya adek yaaa” kata kak Sani.

“Siap kak” jawabku dan Tata. Ia bertanya soal Homeschooling kepada kami, seperti “Nanti ujiannya gimana?”, “Terus belajarnya gimana?”, “Panggil guru yaa?” dan beberapa pertanyaan lagi.

Karena aku akan menemani Tata mewawancarai orang, kami pamit ke pada kak Sani dan berterimakasih karena sudah mau ditanya-tanya.

“Ta, kayaknya kalau disini hampir semua orang lagi tidur. Kita cari ke atas aja yuk” ucapku kepada Tata sambil melihat ke kanan dan kiri. Akhirnya kami menuju ke atas untuk mencari orang yang dapat di wawancara.

“Tata, kamu wawancara bapak-bapak itu aja. Mumpung dia lagi sendirian” saranku kepada Tata sambil menunjuk bapak yang sedang duduk di kursi. Ternyata Tata menerima saranku dan mulai memperkenalkan diri, bapak itupun mempersilahkan kami untuk duduk di sebelahnya dan menawarkan kami pisang.

“Pak kalau boleh tahu, bapak mau kemana yaa?” Tata mulai membangun percakapan. Bapak tersebut menjawab bahwa dirinya akan turun di Pulau Untung Jawa untuk memancing. Ketika Tata ingin bertanya lagi, ia sudah menjelaskan tentang P. Untung Jawa ada apa saja dan masih banyak lagi.

wawancara pak ian sedang wawancara pak Ian, 📱 Kak Shanty.

“Saya kesal sekali dengan orang yang membuat jembatan ini. Bodoh sekali, seperti saya yang sudah tua ini kan capek apalagi lutut saya sukak sakit” curcol bapak itu sambil menunjukan foto jembatan yang terdapat di Pelabuhan P. Untung Jawa dari HPnya.

“Ting nung, ting nung, ting nung sesaat lagi kapal KM. Sabuk Nusantara 66 akan sampai di Pelabuhan Untung jawa” tanda bahwa kapal akan sampai. Tata dan aku menyelesaikan pembicaraan. Sebenarnya agak susah untuk menyelesaikan pembicaraan, untung saja kami berhasil.

Sebelum pamit Pak Ian juga berpesan ”Kalau cari cowok yang hobi main mancing biar Panjang umur”

“Memangnya apa hubungannya mancing sama panjang umur?” tanyaku dan Tata bingung.

“yaa soalnya mancing termasuk olahraga dan reakreasi. Kalau kita senang dan sehat pasti panjang umur” jawabnya

Akhirnya kami benar-benar menyelesaikan pembicaraan, kami juga pamit lagi kepada pak Ian dan segera ke bawah untuk mengambil tas.

“Ta, kayaknya ini dehh jembatan yang di maksud Pak Ian” kataku sambil menaiki anak tangga bagian dari jembatan.

“Iya, iyaa ini pasti jembatannya” kata Tata. Ternyata melewati jembatan tersebut sangat melelahkan, karena setelah turun dari pelabuhan harus naik tangga dan turun lagi baru sampai di pagar masuk pulau Untung Jawa.

sampai di pelabuhan pulau untung jawa

berfoto di pelabuhan P. Untung jawa. 📱 Google Pixel.

 

“Ayo ikut saya mampir ke PKBM dulu” ajak pak Aji.

Oh iyaaa, Ketika di kapal tadi kami bertemu Pak Aji. Akhirnya ketika sampai kami dipandu oleh pak Aji menuju PKBM. Sesampainya disana kami di persilahkan untuk duduk di depan salah satu ruang kelas. Di PKBM ini terdapat beberapa ruangan, hampir semua ruang menghadap ke halaman. Di halaman tersebut terdapat pohon yang tidak begitu besar. Sebelum berangkat ke Mess BKSDA kami berfoto bersama pak Aji dan guru-guru lain.

berfoto di PKBM. 📱 Google Pixel.

Oh, iyaa. Selama dua malam kami akan tinggal di Mess BKSDA pulau Untung Jawa. Pak Aji juga menemani kami sampai ke Mess BKSDA.

“Kak kok dari tadi nggak sampe-sampe sihh” tanya kami, semua merasa heran karena sedari tadi tidak sampai-sampai. Ternyata kami berjalan mengelilingi pulau , jadi jalannya lebih jauh. Padahal dari PKBM tempatnya tidak jauh.

jalan ke Mess BKSDA. 📱 Kak Shanty.

Langkah kami terhenti di depan rumah yang berjejer seperti kos-kosan. Temboknya berwarna coklat muda, posisinya di depan pelabuhan kecil. Inilah Mess BKSDA tempat kami akan tinggal selama dua malam. Pelabuhan di sebrang BKSDA adalah pelabuhan kecil. Di sebrang terlihat jelas Pulau Rambut. Kami segera masuk untuk menaruh barang-barang dan istirahat.

“Adik-adik sebentar lagi kita akan makan siang yaa. Oh iyaa, yang mau beli kelapa ada disana” ucap salah satu kakak mentor. Mendengar kata kelapa kami langsung mengambil dompet dan beli es kelapa. Kelompokku yaitu Dublob (Ratri, Anja, Andini, Trisha, Ceca) membelli dua buah kelapa untuk bersama-sama.

Kami memesan kelapa tersebut dan duduk-duduk di kursi yang tersedia. Sambil menunggu kami bercanda-canda dan mengobrol tentang banyak hal. Tak terasa kelapa yang kami pesan datang.

“Rat, ini mau nggak daging kelapanya, soalnya ini udah potongan terakhir” tanyaku kepada Ratri. Ratri mengangguk menandakan kalau ia mau, akupun segera menyuapi. Karena ini suapan terakhir berarti bertanda kelapa kami sudah habiiiiissss.

“Mas tadi saya pesan 2 kelapa jadi berapa?” tanyaku kepada penjual.

“Jadi Rp. 40.000,-“ jawab penjual. Aku segera mengeluarkan uang kelompok yang ada padaku. Setelah itu kami kembali ke Mess BKSDA,

”Oh iyaa kamar kita yang paling ujung sebelah kiri yaa” ucap Andini. Kami mulai memasukkan barang-barang ke dalam kamar, kami juga menghitung jumlah uang yang ada dan bersiap-siap karena akan pergi ke P. Rambut. Peralatan yang perlu dibawa adalah buku tulis, alat tulis dan minum dimasukkan dalam tas kecil.

“Kelompok yang siap dan paling lengakp yang duluan yaa” kata kak Shanty. Kak Shanty menunjuk regu Dublob dan Anjing laut (Fattah, Alev, Tre, Hibban). Kami mulai naik kapal dan berangkat menuju Pulau Rambut.

naik kapal ke pulau rambut sore

naik kapal menuju P. Rambut. 📱 kak Shanty.

“Ehh, ehh kapalnya miring” ucapku sambil gemetar. Sebenarnya aku agak takut naik kapal karena guncangannya. tetapi aku melawan rasa takut ini dan akhirnya aku bisa naik kapal tidak histeris. Kalau di pikir-pikir menyenangkan juga naik kapal, karena bisa menikmati angin yang bertiup. Rasanya seperti berada di tempat tidur bayi, jadi pengen tidur!.

“Nahh kita udah sampai nihh, di pulau rambut” kata supir kapal yang kita naiki. Aku gemetar karena harus memanjat pinggiran agar bisa naik ke dermaga. Ditambah lagi kapal yang bergoyang-goyang, aku sudah negative thinking duluan. Aku menarik nafas Panjang dan mulai memanjat, “yaaayyyy berhasil” aku berhasil memanjat pinggiran dermaga tersebut. Sebenarnya dermaga ini  tingginya 1,5 M – 2 M. tetapi aku nulisnya di lebay-labayin biar seruu huehuehuehuhehuehue :D.

“Uwaah, pulaunya keren tapiiii sayang ada banyak sampah” kata-kata yang keluar dari mulutku, ketika melihat pulau ini. Padahal pulau ini adalah pulau yang tak berpenghuni dan memasuki Kawasan Suaka Margasatwa, looohhhh.

Sambil menunggu kelompok lain aku dan Ratri sempat melihat daftar hewan-hewan yang terdapat disini. Di daftar tertulis dan tergambar sekitar 30 satwa yang hidup di sini.

“Rat, masih ada macan kumbang sama ular piton” ucapku yang terkejut melihat gambar dan nama “Macan Kumbang” seketika merasa takut. Karena melihat info tadi aku jadi merasa takut untuk masuk kedalam hutan lebih dalam.

“Dari pada liatin ini terus jadi takut,mendingan kita duduk di sana yuuk” ajakku. Kami segera menghampiri teman-teman yang asik duduk di atas batu pinggir pantai. Aku dan Ratri juga ikut duduk-duduk disana, baru saja duduk tiba-tibaaaa…..

“aaakkkk, itu ada biawak” ucap andini menunjuk kearah semak-semak, sambil terkejut melihat biawak yang sangat besar di depan matanya. Aku dan Trisha segera menghampiri andini karena penasaran terhadap biawak tersebut.

biawak

foto Biawak yang sedang terdiam di pinggir pantai. 📱Google Pixel.

Ternyata benar itu adalah biawak yang besar, biawak tersebut sedang terdiam di bawah semak-semak yang banyak sampah. Seketika biawak tersebut merangkak menjauh, kami juga mundur menjauh.

Tak lama kelompok selanjutnya sampai, mereka tidak turun di dermaga melainkan di bibir pantai.  Kami berkumpul di dekat tulisan “Suaka Margasatwa Pulau Rambut”. Kami berkumpul untuk membagi kelompok, kelompoknya di bagi sesuai naik kapal tadi. Berarti kelompok Dublob dan Anjing Laut di pandu oleh pak Jaya, kelompok Puti Doyong dan kelompok Garam Laut. Kami mulai jalan sesuai kelompok tadi.

“Pak, apakah disini masih ada Macan Kumbang” tanyaku penasaran.

“Kalau macan kumbang sudah punah sekitar tahun 1970an” kata Pak Jaya tersebut. Rasa takutku hilang setelah mendengar perkataan itu.

“Tapi masih ada Kalong, ular dan biawak” ucap pak Jaya . Perasaan takutku muncul lagi ketika mendengar kata ular.

Kami mulai jalan menuju menara untuk melihat burung-burung di atas pohon. Di sepanjang jalan kami di jelaskan yentang beberapa tanaman dan pohon yang kami temukan. Kami juga sempat berhenti di pohon yang besar yaitu pohon kresek. Menurutku pohon ini seram karena ular suka berada di atas pohon dan biawak suka bertelur di dekat akar.

Pohon Kresek1

sedang mengamati pohon Kresek. 📱 Google Pixel.

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju menara, tak terasa kami sudah sampai di menara dengan ketinggian 20 meter. Kami mulai menaiki anak tanggan dengan sangat hati-hati, setelah manaiki beberapa anak tangga akhirnya kami sampai juga. Rasa capek dan ngos-ngosan hilang setelah melihat keindahan alam ini.

Kami melihat banyak burung berada di pucuk pohon, burung yang kami lihat adalah

  1. Pecuk Padi Hitam dengan ciri-ciri : berwarna hitam, di kakinya terdapat selaput, mereka bisa menyelam untuk mengejar mangsa.
  2. Cangak abu dengan ciri-ciri : mirip bangau, sayapnya berwarna abu-abu dan hitam di pinggir, leher dan kakinya panjang.
  3. Roko-roko dengan ciri-ciri : selalu terbang bersama rombongan.
  4. Kepodang dengan ciri-ciri : berwarna kuning dan kecil
  5. Kuntul besar dengan ciri-ciri : mirip bangau, berwarna putih, ada Kuntul besar,kecil dan sedang.
  6. Peregam laut dengan ciri-ciri : bulu berwarna putih, ekor nerwarna hitam.

di menara 20m

di atas menara. 📱 Google Pixel.

“Rat, minjem binocularnya dong” pintaku kepada Ratri. Terlihat sangat jelas  banyak burung sedang bertengger di ranting pohon. Kami juga melihat sekelompok roko-roko sedang terbang mencari tempat untuk bertengger, roko-roko tersebut beberapa kali melewati kami. Aku sangat senang bisa melihat pemandangan seindah ini.

Setelah itu kami diajak jalan melewati tanaman berduri yaitu Kincit berduri. Tanaman ini memiliki buah kecil berwarna merah dan bisa di makan. Kata kak lala rasa buah tersebut manis tetapi kata Ratri rasanya pahit banget. Karena penasaran aku jadi ikut mencoba, rasanya sangat pahit, cairan yang keluar dari buah bertekstur kental.

Setelah melewati tanaman berduri akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Kami masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat ke arah pepohonan lewat jendela. Apa yang kami lihat?

Kami melihat berbagai macam burung lewat di depan mata kami. Aku seketika terdiam melihat pemandangan indah ini, aku langsung membuka tas dan mengeluarkan alat tulis untuk menggambar burung cangak abu yang berada di depan mataku.

Ternyata ini adalah “Bird Hiding” tempat kami bersembunyi untuk melihat burung yang baru pulang mencari ikan. Setelah melihat ini kami menuju ke tempat awal pembagian kelompok. Ketika sedang dalam perjalanan kembali ke tempat awal, biawak berlari kencang melewati kami. Semua terkejut dan mata tertuju kepada biawak yang berlari kencang.

Waktu sudah menunjukan pukul 17:00, manandakan kami harus segera pulang. Kelompok yang pertama pulang adalah kelompok Putri Doyong dan Garam Laut. Sambil menunggu kapal, kami bermain air dan bercanda bersama. Waktu menunggu jadi terasa sebentar, perasaanku sehabis pengamatan sore ini sangat senang sekali.

Ketika kapal datang kami langsung jalan menuju kapal tersebut, kali ini kapalnya berhenti di bibir pantai. Jadi kami harus jalan sedikit, jikalau kapalnya berhenti di bibir pantai kami harus memanjat kapal untuk naik.

“aaaakkkkkk, kapalnya miring banget” teriakku kaget saat sedang duduk di kapal dan kapalnya miring ke sebelah kananku. Jadi kami harus menyeimbangkan kapal agar tidak terguling.

Kapal mulai jalan, kami menikmati suasana ini lagi. Ketika kapal sampai di P. Untung Jawa, kami langsung ke Mess dan masuk ke kamarnya masing-masing. Di kamar kami istirahat sebentar setelah itu langsung makan. Makan malam kali ini adalah nasi putih, cumi dan tumis kangkung. Hari ini juga kelompok Dublob bertugas untuk merapihkan piring bekas makan.

 

Sehabis makan malam kami di telp orang tua, tetapi momom dan popop telat menelefonku. Akhirnya kami kembali ke Mess untuk Refleksi.

refleksi hari1

refleksi. 📱 kak Shanty.

“Anja ini ada telp dari momom” panggil kak Lala sambil memberikan HPnya kepadaku. Aku segera mengambil HP tersebut, Popop, Momom, Raja dan Vania juga menanyakan kabarku dan apa saja yang aku lihat disana. Rasanya senang sekali bisa di telp orangtua dan keluarga. Sehabis refleksi kami kembali ke kamar untuk istirahat.

Persiapan Ekspedisi

Tanggal 16/07/2018 17 anak penggalang akan berangkat ekspedisi menuju kepulauan seribu

Ini adalah laporan yang harus aku buat

Pergi pakai apa dan jadwal kegiatan

Foto diatas adalah barang yang akan aku bawa

Masak Nasi tanpa Rice cooker

Kemarin aku belajar memasak nasi tanpa rice cooker, hasilnyaaa enak tetapi ada sedikit kerak

Cara :

– masukan nasi kedalam panci sebanyak dua gelas

– cuci beras sampai bersih biasanya cuci dua kali

– tambahkan air sebanyak satu ruas jari

– nyalakan api kecil diatas kompor

– letakkan panci yang berisi beras di atas kompor

– tunggu sampai matang

Porsi : 4 orang

Hasil Nasi :